Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

1 Juni 2017

Lahirnya Pancasila


Lahirnya Pancasila adalah judul pidato yang disampaikan oleh Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (bahasa Indonesia: "Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan") pada tanggal 1 Juni 1945. Dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal "Pancasila" pertama kali dikemukakan oleh Soekarno sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan "Lahirnya Pancasila" oleh mantan Ketua BPUPK Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato yang kemudian dibukukan oleh BPUPK tersebut. Sejak tahun 2017, hari tersebut resmi menjadi hari libur nasional. 


Latar belakang 

Menjelang kekalahan Tentara Kekaisaran Jepang di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang di Indonesia berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Junbi Cosakai (bahasa Indonesia: "Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan" atau BPUPKI, yang kemudian menjadi BPUPKI, dengan tambahan "Indonesia"). 

Badan ini mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 Mei (yang nantinya selesai tanggal 1 Juni 1945).Rapat dibuka pada tanggal 28 Mei 1945 dan pembahasan dimulai keesokan harinya 29 Mei 1945 dengan tema dasar negara. Rapat pertama ini diadakan di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. Pada zaman Belanda, gedung tersebut merupakan gedung Volksraad (bahasa Indonesia: "Perwakilan Rakyat"). 

Setelah beberapa hari tidak mendapat titik terang, pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia merdeka, yang dinamakannya "Pancasila". Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Junbi Cosakai

Selanjutnya Dokuritsu Junbi Cosakai membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno tersebut. Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Mohammad Yamin) yang ditugaskan untuk merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen tersebut sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. 

Setelah melalui proses persidangan dan lobi-lobi akhirnya rumusan Pancasila hasil penggalian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia merdeka pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh BPUPKI. 

Dalam kata pengantar atas dibukukannya pidato tersebut, yang untuk pertama kali terbit pada tahun 1947, mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat menyebut pidato Ir. Soekarno itu berisi “Lahirnya Pancasila”

”Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh “Lahirnya Pancasila” ini, akan ternyata bahwa ini adalah suatu Demokratisch Beginsel, suatu Beginsel yang menjadi dasar Negara kita, yang menjadi Rechtsideologie Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sidang ada dibawah penilikan yang keras dari Pemerintah Balatentara Jepang. Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang! Selama Fascisme Jepang berkuasa dinegeri kita, Demokratisch Idee tersebut tak pernah dilepaskan oleh Bung Karno, selalu dipegangnya teguh-teguh dan senantiasa dicarikannya jalan untuk mewujudkannya. Mudah-mudahan ”Lahirnya Pancasila” ini dapat dijadikan pedoman oleh nusa dan bangsa kita seluruhnya dalam usaha memperjuangkan dan menyempurnakan Kemerdekaan Negara.”

11 Mei 2017

Siddhartha Gautama


Buddha Gautama dilahirkan dengan nama Siddhārtha Gautama (Sanskerta: Siddhattha Gotama; Pali: "keturunan Gotama yang tujuannya tercapai"), dia kemudian menjadi Buddha (secara harfiah: orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna). Dia juga dikenal sebagai Shakyamuni ('orang bijak dari kaum Sakya') dan sebagai Tathagata. Siddhartha Gautama adalah guru spiritual dari wilayah timur laut India yang juga merupakan pendiri Agama Buddha. Ia secara mendasar dianggap oleh pemeluk Agama Buddha sebagai Buddha Agung (Sammāsambuddha) pada masa sekarang. Waktu kelahiran dan kematiannya tidaklah pasti: sebagian besar sejarawan dari awal abad ke 20 memperkirakan kehidupannya antara tahun 563 SM sampai 483 SM, ada juga yang menyebut tahun 623 SM sampai 543 SM; baru-baru ini, pada suatu simposium para ahli akan masalah ini, sebagian besar dari ilmuwan yang menjelaskan pendapat memperkirakan tanggal berkisar antara 20 tahun antara tahun 400 SM untuk waktu meninggal dunianya, sedangkan yang lain menyokong perkiraan tanggal yang lebih awal atau waktu setelahnya.

Siddhartha Gautama merupakan figur utama dalam agama Buddha, keterangan akan kehidupannya, khotbah-khotbah, dan peraturan keagamaan yang dipercayai oleh penganut agama Buddha dirangkum setelah kematiannya dan dihafalkan oleh para pengikutnya. Berbagai kumpulan perlengkapan pengajaran akan Siddhartha Gautama diberikan secara lisan, dan bentuk tulisan pertama kali dilakukan sekitar 400 tahun kemudian. Pelajar-pelajar dari negara Barat lebih condong untuk menerima biografi Buddha yang dijelaskan dalam naskah Agama Buddha sebagai catatan sejarah, tetapi belakangan ini "keseganan pelajar negara Barat meningkat dalam memberikan pernyataan yang tidak sesuai mengenai fakta historis akan kehidupan dan pengajaran Buddha."

Ayah dari Pangeran Siddhartha Gautama adalah Sri Baginda Raja Suddhodana dari Suku Sakya dan ibunya adalah Ratu Mahāmāyā Dewi. Ibunda Pangeran Siddharta Gautama meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Pangeran. Setelah meninggal, dia terlahir di alam/surga Tusita, yaitu alam surga luhur. Sejak meninggalnya Ratu Mahāmāyā Dewi, Pangeran Siddharta dirawat oleh Ratu Mahā Pajāpati, bibinya yang juga menjadi isteri Raja Suddhodana.

Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 623 SM di Taman Lumbini, saat Ratu Maha Maya berdiri memegang dahan pohon sala. Pada saat ia lahir, dua arus kecil jatuh dari langit, yang satu dingin sedangkan yang lainnya hangat. Arus tersebut membasuh tubuh Siddhartha. Siddhartha lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijakinya ditumbuhi bunga teratai.

Oleh para pertapa di bawah pimpinan Asita Kaladewala, diramalkan bahwa Pangeran kelak akan menjadi seorang Chakrawartin (Maharaja Dunia) atau akan menjadi seorang Buddha. Hanya pertapa Kondañña yang dengan tegas meramalkan bahwa Pangeran kelak akan menjadi Buddha. Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda menjadi cemas, karena apabila Pangeran menjadi Buddha, tidak ada yang akan mewarisi tahta kerajaannya. Oleh pertanyaan Raja, para pertapa itu menjelaskan agar Pangeran jangan sampai melihat empat macam peristiwa. Bila tidak, ia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha. Empat macam peristiwa itu adalah:

  1. Orang tua,
  2. Orang sakit,
  3. Orang mati,
  4. Seorang pertapa.

Sejak kecil sudah terlihat bahwa Pangeran adalah seorang anak yang cerdas dan sangat pandai, selalu dilayani oleh pelayan-pelayan dan dayang-dayang yang masih muda dan cantik rupawan di istana yang megah dan indah. Pada saat berusia 7 tahun, Pangeran Siddharta mempunyai 3 kolam bunga teratai, yaitu:

  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Biru (Uppala)
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Merah (Paduma)
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Putih (Pundarika)

Dalam Usia 7 tahun Pangeran Siddharta telah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Pangeran Siddharta menguasai semua pelajaran dengan baik. Dalam usia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan Puteri Yasodhara yang dipersuntingnya setelah memenangkan berbagai sayembara. Dan saat berumur 16 tahun, Pangeran memiliki tiga Istana, yaitu:

  • Istana Musim Dingin (Ramma)
  • Istana Musim Panas (Suramma)
  • Istana Musim Hujan (Subha)

Kata-kata pertapa Asita membuat Raja Suddhodana tidak tenang siang dan malam, karena khawatir kalau putra tunggalnya akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa, mengembara tanpa tempat tinggal. Untuk itu Baginda memilih banyak pelayan untuk merawat Pangeran Siddharta, agar putra tunggalnya menikmati hidup keduniawian. Segala bentuk penderitaan berusaha disingkirkan dari kehidupan Pangeran Siddharta, seperti sakit, umur tua, dan kematian, sehingga Pangeran hanya mengetahui kenikmatan duniawi.

Suatu hari Pangeran Siddharta meminta izin untuk berjalan di luar istana, di mana pada kesempatan yang berbeda dilihatnya "Empat Kondisi" yang sangat berarti, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan orang suci. Pangeran Siddhartha bersedih dan menanyakan kepada dirinya sendiri, "Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, umur tua dan kematian. Lebih-lebih mereka yang minta pertolongan kepada orang yang tidak mengerti, yang sama-sama tidak tahu dan terikat dengan segala sesuatu yang sifatnya sementara ini!". Pangeran Siddharta berpikir bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban tersebut.

Selama 10 tahun lamanya Pangeran Siddharta hidup dalam kesenangan duniawi. Pergolakan batin Pangeran Siddharta berjalan terus sampai berusia 29 tahun, tepat pada saat putra tunggalnya Rahula lahir. Pada suatu malam, Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan istananya dan dengan ditemani oleh kusirnya, Channa. Tekadnya telah bulat untuk melakukan Pelepasan Agung dengan menjalani hidup suci sebagai pertapa.

Setelah itu Pangeran Siddhartha meninggalkan istana, keluarga, kemewahan, untuk pergi berguru mencari ilmu sejati yang dapat membebaskan manusia dari usia tua, sakit dan mati. Pertapa Siddharta berguru kepada Alāra Kālāma dan kemudian kepada Uddaka Ramāputta, tetapi tidak merasa puas karena tidak memperoleh yang diharapkannya. Kemudian dia bertapa menyiksa diri dengan ditemani lima orang pertapa. Akhirnya dia juga meninggalkan cara yang ekstrem itu dan bermeditasi di bawah pohon Bodhi untuk mendapatkan Penerangan Agung.

Di dalam pengembaraannya, pertapa Gautama mempelajari latihan pertapaan dari pertapa Bhagava dan kemudian memperdalam cara bertapa dari dua pertapa lainnya, yaitu pertapa Alara Kalama dan pertapa Udraka Ramputra. Namun setelah mempelajari cara bertapa dari kedua gurunya tersebut, tetap belum ditemukan jawaban yang diinginkannya. Sehingga sadarlah pertapa Gautama bahwa dengan cara bertapa seperti itu tidak akan mencapai Pencerahan Sempurna. Kemudian pertapa Gautama meninggalkan kedua gurunya dan pergi ke Magadha untuk melaksanakan bertapa menyiksa diri di hutan Uruvela, di tepi Sungai Nairanjana(Naranjara) yang mengalir dekat Hutan Gaya. Walaupun telah melakukan bertapa menyiksa diri selama enam tahun di Hutan Uruvela, tetap pertapa Gautama belum juga dapat memahami hakikat dan tujuan dari hasil pertapaan yang dilakukan tersebut.

Pada suatu hari pertapa Gautama dalam pertapaannya mendengar seorang tua sedang menasihati anaknya di atas perahu yang melintasi sungai Nairanjana dengan mengatakan:

Bila senar kecapi ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, dan lenyaplah suara kecapi itu. Bila senar kecapi ini dikendorkan, suaranya akan semakin merendah. Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu.

Nasihat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan tapanya lalu pergi ke sungai untuk mandi. Badannya yang telah tinggal tulang hampir tidak sanggup untuk menopang tubuh pertapa Gautama. Seorang wanita bernama Sujata memberi pertapa Gautama semangkuk susu. Badannya dirasakannya sangat lemah dan maut hampir saja merenggut jiwanya, namun dengan kemauan yang keras membaja, pertapa Gautama melanjutkan samadhinya di bawah pohon bodhi (Asattha) di Hutan Gaya, sambil ber-prasetya, "Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna."

Perasaan bimbang dan ragu melanda diri pertapa Gautama, hampir saja Dia putus asa menghadapi godaan Mara, dewa penggoda yang dahsyat. Dengan kemauan yang keras membaja dan dengan keyakinan yang teguh kukuh, akhirnya godaan Mara dapat dilawan dan ditaklukkannya. Hal ini terjadi ketika bintang pagi memperlihatkan dirinya di ufuk timur.

Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Samma sam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Siddhi di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun (menurut versi Buddhisme Mahayana, 531 SM pada hari ke-8 bulan ke-12, menurut kalender lunar. Versi WFB, pada bulan Mei tahun 588 SM). Pada saat mencapai Pencerahan Sempurna, dari tubuh Siddharta memancar enam sinar Buddha (Buddharasmi) dengan warna biru (nila) yang berarti bhakti; kuning (pita) mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; merah (lohita) yang berarti kasih sayang dan belas kasih; putih (Avadata) mengandung arti suci; jingga (mangasta) berarti semangat ; dan campuran sinar tersebut (prabhasvara)

Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, pertapa Gautama mendapat gelar kesempurnaan yang antara lain: Buddha Gautama, Buddha Sakyamuni, Tathagata ('Ia Yang Telah Datang', Ia Yang Telah Pergi'), Sugata ('Yang Maha Tahu'), Bhagava ('Yang Agung') dan sebagainya. Lima pertapa yang mendampingi Dia di hutan Uruvela merupakan murid pertama Buddha yang mendengarkan khotbah pertama Dhammacakka Pavattana Sutta, di mana Dia menjelaskan mengenai Jalan Tengah yang ditemukan-Nya, yaitu Delapan Ruas Jalan Kemuliaan termasuk awal khotbahNya yang menjelaskan "Empat Kebenaran Mulia".

Buddha Gautama berkelana menyebarkan Dharma selama empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun, saat ia menyadari bahwa tiga bulan lagi ia akan mencapai Parinibbana.

Buddha dalam keadaan sakit terbaring di antara dua pohon sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswa-Nya, lalu Parinibbana (versi Buddhisme Mahayana, 486 SM pada hari ke-15 bulan ke-2 kalender Lunar. Versi WFB pada bulan Mei, 543 SM).

Seorang Buddha memiliki sifat Cinta Kasih (maitri atau metta) dan Kasih Sayang (karuna). Jalan untuk mencapai Kebuddhaan ialah dengan melenyapkan ketidaktahuan atau kebodohan batin yang dimiliki oleh manusia. Pada waktu Pangeran Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi, ia telah mengikrarkan Empat Prasetya yang berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang tidak terbatas, yaitu

  1. Berusaha menolong semua makhluk.
  2. Menolak semua keinginan nafsu keduniawian.
  3. Mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma.
  4. Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.

Buddha Gautama pertama melatih diri untuk melaksanakan amal kebajikan kepada semua makhluk dengan menghindarkan diri dari sepuluh tindakan yang diakibatkan oleh tubuh, ucapan dan pikiran, yaitu

  • Tubuh (kaya): pembunuhan, pencurian, perbuatan jinah.
  • Ucapan (vaci): penipuan, pembicaraan fitnah, pengucapan kasar, percakapan tiada manfaat.
  • Pikiran (mano): kemelekatan, niat buruk dan kepercayaan yang salah.

Cinta kasih dan kasih sayang seorang Buddha adalah cinta kasih untuk kebahagiaan semua makhluk seperti orang tua mencintai anak-anaknya, dan mengharapkan berkah tertinggi terlimpah kepada mereka. Akan tetapi terhadap mereka yang menderita sangat berat atau dalam keadaan batin gelap, Buddha akan memberikan perhatian khusus. Dengan Kasih Sayang-Nya, Buddha menganjurkan supaya mereka berjalan di atas jalan yang benar dan mereka akan dibimbing dalam melawan kejahatan, hingga tercapai "Pencerahan Sempurna".

Sebagai Buddha, Dia telah mengenal semua orang dan dengan menggunakan berbagai cara. Dia telah berusaha untuk meringankan penderitaan banyak makhluk. Buddha Gautama mengetahui sepenuhnya hakikat dunia, Ia menunjukkan tentang keadaan dunia sebagaimana adanya. Buddha Gautama mengajarkan agar setiap orang memelihara akar kebijaksanaan sesuai dengan watak, perbuatan dan kepercayaan masing-masing. Ia tidak saja mengajarkan melalui ucapan, akan tetapi juga melalui perbuatan. Dalam mengajar umat manusia yang mendambakan lenyapnya Dukkha, Dia menggunakan jalan pembebasan dari kelahiran dan kematian untuk membangunkan perhatian mereka.

Pengabdian Buddha Gautama telah membuat diri-Nya mampu mengatasi berbagai masalah di dalam berbagai kesempatan yang pada hakikatnya adalah Dharma-kaya, yang merupakan keadaan sebenarnya dari hakikat yang hakiki dari seorang Buddha. Buddha adalah pelambang dari kesucian, yang tersuci dari semua yang suci. Karena itu, Buddha adalah Raja Dharma yang agung. Buddha mengkhotbahkan Dharma, akan tetapi sering terdapat telinga orang yang bodoh karena keserakahannya dan kebenciannya, tidak mau memperhatikan dan mendengarkan khotbah-Nya. Bagi mereka yang mendengarkan khotbah-Nya, yang dapat mengerti dan menghayati serta mengamalkan Sifat Agung Buddha akan terbebas dari penderitaan hidup. Mereka tidak akan dapat tertolong hanya karena mengandalkan kepintarannya sendiri.

Buddha tidak hanya dapat mengetahui dengan hanya melihat wujud dan sifat-Nya semata-mata, karena wujud dan sifat luar tersebut bukanlah Buddha yang sejati. Jalan yang benar untuk mengetahui Buddha adalah dengan jalan membebaskan diri dari hal-hal duniawi/menjalani hidup dengan mempraktekkan jalan mulia berunsur delapan. Buddha sejati bukanlah wujud jasmani, sehingga Sifat Agung seorang Buddha tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Apabila seseorang dapat melihat jelas wujud-Nya atau mengerti Sifat Agung Buddha, namun tidak tertarik kepada wujud-Nya atau sifat-Nya, dialah yang sesungguhnya yang telah mempunyai kebijaksanaan untuk melihat dan mengetahui Buddha dengan benar.


Sumber: Wikipedia

21 April 2017

R. A. Kartini Pejuang Emansipasi Wanita


R.A. Kartini atau Raden Ayu Kartini adalah salah satu sosok wanita yang menjadi pelopor untuk kebangkitan wanita pribumi, salah satu dari pahlawan Indonesia yang wajib untuk dijadikan inspirasi hidup bagi warga Indonesia khususnya bagi para kaum wanita. Perjuangan beliau untuk memperjuangkan emansipasi wanita di Indonesia patut diancungi jempol. 

Raden Ayu Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Kota Jepara. R.A adalah sebuah gelar yang diberikan kepada keluarga bangsawan karena beliau merupakan anak dari kalangan keluarga bangsawan, maka ia berhak mendapatkan gelar R.A atau bisa disebut dengan Raden Ajeng. 

Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, yang semasa hidupnya pernah menjabat sebagai Bupati Jepara yang diangkat saat berusia 25 tahun dan dikenal sebagai salah satu bupati pertama yang memberikan pendidikan barat kepada anak-anaknya. 

R.M. Adipati Ario Sosroningrat juga pernah menjabat sebagai bupati Jepara setelah Kartini dilahirkan. Dari ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Tidak hanya itu, ayahnya dikatakan masih memiliki garis keturunan dari Kerajaan Majapahit hal ini diperkuat dengan pernyataan 'Pada abad ke-18 Pangeran Dangirin menjadi bupati di Surabaya sehingga nenek moyang R.M. Adipati Ario Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja (informasi ini perlu diteliti lebih lanjut). 

Berbeda dengan ayahnya, ibu dari Kartini bukan keturunan dari bangsawan melainkan hanya rakyat biasa. Nama beliau adalah M.A. Ngasirah merupakan anak dari Kyai Haji Madirono dengan Nyai Haji Siti Aminah, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. 

Raden Ayu Kartini merupakan anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari semua saudara kandungnya, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakaknya yang bernama Sosrokartono, seorang yang pintar dalam bidang sastra atau bahasa. 

Pada pernikahan pertama, R.M. Adipati Ario Sosroningrat menjabat sebagai Wedana di Mayong. Peraturan kolonial pada saat itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan, maka M.A. Ngasirah yang bukan dari keturunan bangsawan harus rela karena R.M. Adipati Ario Sosroningrat yang merupakan seorang bangsawan menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung dari seorang Raja Madura yang bernama R.A.A. Tjitrowikromo. Setelah pernikahan tersebut ayah Kartini diangkat menjadi Bupati di Jepara. M.A. Ngasirah menjadi istri pertama dan R.A. Woerjan menjadi istri utama. 

R.A Kartini bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sekolah ini ia belajar Bahasa Belanda, namun hanya sampai usia 12 tahun karena budaya pada masa itu, anak perempuan harus tinggal dirumah untuk 'dipingit' dapat diartikan sebagai dikurung/berkurung di dalam rumah. 

Belajar dapat dimana saja dan kapanpun selagi kita memiliki kemauan dan kesempatan, itulah yang dilakukan Kartini. Ia bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda salah satunya bernama Rosa Abendanon. 


Munculnya Pemikiran Mengenai Emansipasi Wanita 

Kebiasaan Kartini yang menulis surat kepada teman-teman korespondensi dan juga ditambah dengan sering membaca buku, koran, maupun majalah Eropa, Kartini menjadi tertarik pada kemajuan pola berpikir perempuan Eropa. Akhirnya timbul keinginan untuk memajukan wanita pribumi karena pada masa itu dengan budaya yang bersifat menekan perempuan, ia melihat bahwa wanita pribumi berada pada status sosial yang rendah. 

Kartini juga banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief, ia juga menerima Leestrommel (paket majalah langganan). Ia beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak bahwa Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian. 

Perhatiannya tidak hanya fokus pada emansipasi wanita, namun juga dalam masalah sosial umum. Ia menginginkan agar wanita memperoleh persamaan hukum dan kebebasan sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Ia suka membaca buku, beberapa buku yang ia baca, yaitu Max Havelaar, Surat-Surat Cinta karya Multatuli, dan De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. 

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi wanita pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan bagi kaum wanita. 

Raden Ayu Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling, Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen, Zelf-werkzaamheid, dan Solidariteit. Semua itu atas dasar Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan, ditambah dengan peri kemanusiaandan Nasionalisme (cinta tanah air). 

R.A Kartini memiliki keinginan untuk dapat melihat wanita pribumi mendapatkan persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat seperti persamaan hak wanita dengan laki-laki, kebebasan dalam menuntut ilmu, maupun dalam mengekang kebebasan wanita. 

Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi wanita Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. 

Raden Ayu Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-citanya. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi. 

Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginannya tersebut. Akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini. 

Pada tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi mungkin hanya akan menjadi mimpi yang tidak dapat diwudujkan. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi. 

R.A Kartini menikah dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat pada tanggal 12 November 1903, yang merupakan seorang bangsawan dan juga menjabat sebagai Bupati di Rembang yang telah mempunyai tiga orang istri. Suaminya mengerti apa yang diinginkan oleh Kartini, akhirnya Kartini diberi kebebasan dan didukung untuk mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang dan sekarang bangunan tersebut digunakan sebagai Gedung Pramuka. 


Meninggal Dunia 

Pernikahannya dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo memiliki satu orang anak yang bernama Soesalit Djojoahiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Berselang beberapa hari setelah melahirkan tepatnya pada tanggal 17 September 1904, Kartini meninggal dunia dan dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. 

Berkat kegigihan yang dilakukan oleh Kartini, kemudian banyak sekolah wanita yang berdiri seperti di kota di Indonesia seperti Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, daerah lainnya, maupun sekolah wanita yang didirikan oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912. Nama sekolah tersebut adalah Sekolah Kartini yang didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis. 

Penjelasan Politik Etis adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. 


Pengumpulan Surat yang Pernah Ditulis oleh Kartini 


Setelah kematian Kartini, seseorang yang bernama J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan oleh Kartini kepada teman-teman korespondensi yang berada di Eropa. J.H. Abendanon yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang memiliki arti "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini. 

Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran. Pada tahun 1938 keluar buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Jawa dan Sunda. 

Surat-surat Kartini juga diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno. Pada mulanya Sulastin menerjemahkan Door Duisternis Tot Licht di Universitas Leiden, Belanda, saat ia melanjutkan studi di bidang sastra tahun 1972. Pada 1979, sebuah buku berisi terjemahan Sulastin Sutrisno versi lengkap Door Duisternis Tot Licht pun terbit. Buku kumpulan surat versi Sulastin Sutrisno terbit dengan judul Surat-Surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya. 


Buku yang terbit melalui pengumpulan surat kartini : 

Habis Gelap Terbitlah Terang 

Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya 

Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 

Panggil Aku Kartini Saja 

Kartini Surat-Surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya 

Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 

Surat-surat yang ditulis oleh Kartini menarik perhatian masyarakat Belanda dan pemikiran yang dituangkan dalam surat tersebut mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap wanita pribumi. Tidak hanya itu surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional, antara lain W.R. Soepratman yang berhasil menciptakan sebuah lagi yang berjudul Ibu Kita Kartini. Lagu ibu kita Kartini menggambarkan inti perjuangan wanita untuk merdeka. Kini kemerdekaan kaum wanita diwujudkan dalam konsep emansipasi wanita. 


Lirik Lagu Ibu Kita Kartini Karya W.R. Soepratman 

Ibu kita Kartini, putri sejati 

Putri Indonesia, harum namanya 

Ibu kita Kartini, pendekar bangsa 

Pendekar kaumnya untuk merdeka 

Wahai ibu kita Kartini 

Putri yang mulia 

Sungguh besar cita-citanya 

Bagi Indonesia 


Ibu kita Kartini, putri jauhari 

Putri yang berjasa, se-Indonesia 

Ibu kita Kartini, putri yang suci 

Putri yang merdeka cita-citanya 

Wahai ibu kita kartini 

putri yang mulia 

sungguh besar cita-citanya bagi indonesia 


Ibu kita Kartini, pendekar putri 

Pendekar kaum ibu Tanah Airku 

Ibu kita Kartini, penyuluh budi 

Penyuluh kaumnya kar'na cintanya 

Wahai ibu kita Kartini 

Putri yang mulia 

Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia 


Perdebatan Mengenai Kebenaran Surat dari Kartini 

Ada kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat Kartini. Ada dugaan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya. Menurut almarhumah Sulastin Sutrisno, jejak keturunan J.H. Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda. 

Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini seperti Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, Dewi Sartika dan lain-lain. 


Penghargaan 

Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. 

Lagu Ibu Kita Kartini karya W.R. Soepratman juga ditetapkan sebagai lagu Nasional. Namanya juga diabadikan sebagai nama jalan kota yang ada di Belanda. 

Utrecht : dengan nama Jalan R.A. Kartini atau Kartinistraat 

Venlo : dengan nama Jalan R.A. Kartinistraat 

Amsterdam : dengan nama Jalan Raden Adjeng Kartini 

Haarlem : dengan nama Jalan Kartini

14 Juli 2016

Revolusi Perancis


Revolusi Perancis (bahasa Perancis: Révolution française; 1789–1799), adalah suatu periode sosial radikal dan pergolakan politik di Perancis yang memiliki dampak abadi terhadap sejarah Perancis, dan lebih luas lagi, terhadap Eropa secara keseluruhan. Monarki absolut yang telah memerintah Perancis selama berabad-abad runtuh dalam waktu tiga tahun. Rakyat Perancis mengalami transformasi sosial politik yang epik; feodalisme, aristokrasi, dan monarki mutlak diruntuhkan oleh kelompok politik radikal sayap kiri, oleh massa di jalan-jalan, dan oleh masyarakat petani di perdesaan. Ide-ide lama yang berhubungan dengan tradisi dan hierarki monarki, aristokrat, dan Gereja Katolik digulingkan secara tiba-tiba dan digantikan oleh prinsip-prinsip baru; Liberté, égalité, fraternité (kebebasan, persamaan, dan persaudaraan). Ketakutan terhadap penggulingan menyebar pada monarki lainnya di seluruh Eropa, yang berupaya mengembalikan tradisi-tradisi monarki lama untuk mencegah pemberontakan rakyat. Pertentangan antara pendukung dan penentang Revolusi terus terjadi selama dua abad berikutnya.

Di tengah-tengah krisis keuangan yang melanda Perancis, Louis XVI naik takhta pada tahun 1774. Pemerintahan Louis XVI yang tidak kompeten semakin menambah kebencian rakyat terhadap monarki. Didorong oleh sedang berkembangnya ide Pencerahan dan sentimen radikal, Revolusi Perancis pun dimulai pada tahun 1789 dengan diadakannya pertemuan Etats-Généraux pada bulan Mei. Tahun-tahun pertama Revolusi Perancis diawali dengan diproklamirkannya Sumpah Lapangan Tenis pada bulan Juni oleh Etats Ketiga, diikuti dengan serangan terhadap Bastille pada bulan Juli, Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara pada bulan Agustus, dan mars kaum wanita di Versailles yang memaksa istana kerajaan pindah kembali ke Paris pada bulan Oktober. Beberapa tahun kedepannya, Revolusi Perancis didominasi oleh perjuangan kaum liberal dan sayap kiri pendukung monarki yang berupaya menggagalkan reformasi.

Sebuah negara republik didirikan pada bulan Desember 1792 dan Raja Louis XVI dieksekusi setahun kemudian. Perang Revolusi Perancis dimulai pada tahun 1792 dan berakhir dengan kemenangan Perancis secara spektakuler. Perancis berhasil menaklukkan Semenanjung Italia, Negara-Negara Rendah, dan sebagian besar wilayah di sebelah barat Rhine – prestasi terbesar Perancis selama berabad-abad.

Secara internal, sentimen radikal Revolusi berpuncak pada naiknya kekuasaan Maximilien Robespierre, Jacobin, dan kediktatoran virtual oleh Komite Keamanan Publik selama Pemerintahan Teror dari tahun 1793 hingga 1794. Selama periode ini, antara 16.000 hingga 40.000 rakyat Perancis tewas. Setelah jatuhnya Jacobin dan pengeksekusian Robespierre, Direktori mengambilalih kendali negara pada 1795 hingga 1799, lalu ia digantikan oleh Konsulat di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte pada tahun 1799.

Revolusi Perancis telah menimbulkan dampak yang mendalam terhadap perkembangan sejarah Modern. Pertumbuhan republik dan demokrasi liberal, menyebarnya sekularisme, perkembangan ideologi modern, dan penemuan gagasan perang total adalah beberapa warisan Revolusi Perancis. Peristiwa berikutnya yang juga terkait dengan Revolusi ini adalah Perang Napoleon, dua peristiwa restorasi monarki terpisah; Restorasi Bourbon dan Monarki Juli, serta dua revolusi lainnya pada tahun 1834 dan 1848 yang melahirkan Perancis modern.

Sebagian besar sejarawan berpendapat bahwa sebab utama Revolusi Perancis adalah ketidakpuasan terhadap Ancien Régime. Lebih khusus, para sejarawan juga menekankan adanya konflik kelas dari perspektif Marxis; hal yang umum terjadi pada akhir abad ke-19. Perekonomian yang tidak sehat, panen yang buruk, kenaikan harga pangan, dan sistem transportasi yang tidak memadai adalah hal-hal yang memicu kebencian rakyat terhadap pemerintah. Rentetan peristiwa yang mengarah ke revolusi dipicu oleh kebangkrutan pemerintah karena sistem pajak yang buruk dan utang yang besar akibat keterlibatan Perancis dalam berbagai perang besar. Upaya Perancis dalam menantang Inggris – kekuatan militer utama di dunia pada saat itu – dalam Perang Tujuh Tahun berakhir dengan bencana, menyebabkan hilangnya jajahan Perancis di Amerika Utara dan hancurnya Angkatan Laut Perancis. Tentara Perancis dibangun kembali dan kemudian berhasil menang dalam Perang Revolusi Amerika, namun perang ini sangat mahal dan secara khusus tidak menghasilkan keuntungan yang nyata bagi Perancis. Sistem keuangan Perancis terpuruk dan kerajaan tidak mampu menangani utang negara yang besar. Karena dihadapkan pada krisis keuangan ini, raja lalu memanggil Majelis Bangsawan pada tahun 1787, pertama kalinya selama lebih dari satu abad.

Sementara itu, keluarga kerajaan hidup nyaman di Versailles dan terkesan acuh tak acuh terhadap krisis yang semakin meningkat. Meskipun secara teori pemerintahan Raja Louis XVI berbentuk monarki absolut, namun dalam praktiknya ia sering ragu-ragu dan akan mundur jika menghadapi oposisi yang kuat. Louis XVI memang berusaha mengurangi pengeluaran pemerintah, namun lawannya di parlement berhasil menggagalkan upayanya untuk memberlakukan reformasi yang lebih luas. Penentang kebijakan Louis semakin banyak dan berupaya menjatuhkan kerajaan dengan berbagai cara, misalnya dengan membagikan pamflet yang melaporkan informasi palsu dan dilebih-lebihkan untuk mengkritik pemerintah dan aparatnya, yang semakin memperkuat opini publik dalam melawan monarki.

Faktor lainnya yang dianggap sebagai penyebab Revolusi Perancis adalah kebencian terhadap pemerintah, yang muncul seiring dengan berkembangnya cita-cita Pencerahan. Ini termasuk kebencian terhadap absolutisme kerajaan; kebencian oleh masyarakat petani, buruh, dan kaum borjuis terhadap hak-hak istimewa yang dimiliki oleh kaum bangsawan; kebencian terhadap Gereja Katolik atas pengaruhnya dalam kebijakan publik dan di lembaga-lembaga negara; keinginan untuk memperjuangkan kebebasan beragama; kebencian para pendeta perdesaan miskin terhadap uskup aristokrat; keinginan untuk mewujudkan kesetaraan sosial, politik, ekonomi, serta (khususnya saat Revolusi berlangsung) republikanisme; kebencian terhadap Ratu Marie Antoinette, yang dituduh sebagai seorang pemboros dan mata-mata Austria; serta kemarahan terhadap Raja karena memecat bendahara keuangan Jacques Necker, salah satu orang yang dianggap sebagai wakil rakyat di kerajaan.

Necker semakin dimusuhi oleh keluarga kerajaan Perancis karena dianggap memanipulasi opini publik secara terang-terangan. Ratu Marie Antoinette, adik Raja Comte d'Artois, dan anggota konservatif lainnya dari dewan privy mendesak Raja agar memecat Necker sebagai penasihat keuangan. Pada 11 Juli 1789, setelah Necker menerbitkan laporan keuangan pemerintah kepada publik, Raja memecatnya, dan segera merestrukturisasi kementerian keuangan tidak lama berselang.

Kebanyakan warga Paris menganggap bahwa tindakan Louis secara tak langsung ditujukan pada Majelis dan segera memulai pemberontakan terbuka setelah mereka mendengar kabar tersebut pada keesokan harinya. Mereka juga khawatir terhadap banyaknya tentara – kebanyakan tentara asing – yang ditugaskan untuk menutup Majelis Konstituante Nasional. Dalam sebuah pertemuan di Versailles, Majelis bersidang secara non-stop untuk berjaga-jaga jika nanti tempat pertemuan digusur secara tiba-tiba. Paris dengan cepat dipenuhi oleh berbagai kerusuhan, kekacauan, dan penjarahan. Massa juga mendapat dukungan dari beberapa Garda Perancis yang dipersenjatai dan dilatih sebagai tentara.

Pada tanggal 14 Juli, para pemberontak mengincar sejumlah besar senjata dan amunisi di benteng dan penjara Bastille, yang juga dianggap sebagai simbol kekuasaan monarki. Setelah beberapa jam pertempuran, benteng jatuh ke tangan pemberontak pada sore harinya. Meskipun terjadi gencatan senjata untuk mencegah pembantaian massal, Gubernur Marquis Bernard de Launay dipukuli, ditusuk, dan dipenggal, kepalanya diletakkan di ujung tombak dan diarak ke sekeliling kota. Walaupun hanya menahan tujuh tahanan (empat pencuri, dua bangsawan yang ditahan karena tindakan tak bermoral, dan seorang tersangka pembunuhan), Bastille telah menjadi simbol kebencian terhadap Ancien Régime. Di Hôtel de Ville (balai kota), massa menuduh prévôt des marchands (setara dengan wali kota) Jacques de Flesselles sebagai pengkhianat, dan membantainya.

Raja Louis yang khawatir dengan tindak kekerasan terhadapnya mundur untuk sementara waktu. Marquis de la Fayette mengambilalih komando Garda Nasional di Paris. Jean-Sylvain Bailly, presiden Majelis pada saat Sumpah Lapangan Tenis, menjadi wali kota di bawah struktur pemerintahan baru yang dikenal dengan komune. Raja mengunjungi Paris pada tanggal 17 Juli dan menerima sebuah simpul pita triwarna, diiringi dengan teriakan Vive la Nation ("Hidup Bangsa") dan Vive le Roi ("Hidup Raja").

Necker kembali menduduki jabatannya, namun kejayaannya berumur pendek. Necker memang seorang ahli keuangan yang cerdik, namun sebagai politisi, ia kurang terampil. Necker dengan cepat kehilangan dukungan rakyat setelah menuntut amnesti umum.

Setelah kemenangan Majelis, situasi di Perancis masih tetap memburuk. Kekerasan dan penjarahan terjadi di seantero negeri. Kaum bangsawan yang mengkhawatirkan keselamatan mereka berbondong-bondong pindah ke negara tetangga. Dari negara-negara tersebut, para émigré ini mendanai kelompok-kelompok kontra-revolusi di Perancis dan mendesak monarki asing untuk memberikan dukungan pada kontra-revolusi.

Pada akhir Juli, semangat kedaulatan rakyat telah menyebar di seluruh Perancis. Di daerah pedesaan, rakyat jelata mulai membentuk milisi dan mempersenjatai diri melawan invasi asing: beberapa di antaranya menyerang châteaux kaum bangsawan sebagai bagian dari pemberontakan agraria umum yang dikenal dengan "la Grande Peur" ("Ketakutan Besar"). Selain itu, rumor liar dan paranoia kolektif menyebabkan meluasnya kerusuhan dan kekacauan sipil yang berkontribusi terhadap runtuhnya hukum dan kacaunya ketertiban.

Pada tanggal 4 Agustus 1789, Majelis Konstituante Nasional menghapuskan feodalisme (meskipun pada saat itu telah terjadi pemberontakan petani yang hampir mengakhiri feodalisme). Keputusan ini dituangkan dalam dokumen yang dikenal dengan Dekret Agustus, yang menghapuskan seluruh hak istimewa kaum Estate Kedua dan hak dîme (menerima zakat) yang dimiliki oleh Estate Pertama. Hanya dalam waktu beberapa jam, bangsawan, pendeta, kota, provinsi, dan perusahaan kehilangan hak-hak istimewanya.

Pada tanggal 26 Agustus 1789, Majelis menerbitkan Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara, yang memuat pernyataan prinsip, bukannya konstitusi dengan efek hukum. Majelis Konstituante Nasional tidak hanya berfungsi sebagai legislatif, namun juga sebagai badan untuk menyusun konstitusi baru.

Necker, Mounier, Lally-Tollendal dan yang lainnya tidak berhasil mencapai kesepakatan dengan senat, yang keanggotaannya ditunjuk oleh Raja dan dicalonkan oleh rakyat. Sebagian besar bangsawan mengusulkan agar majelis tinggi dipilih oleh kaum bangsawan. Sidang segera dilakukan pada hari itu, yaang memutuskan bahwa Perancis akan memiliki majelis tunggal dan unikameral. Kekuasaan Raja terbatas hanya untuk "menangguhkan veto"; ia bisa menunda implementasi undang-undang, namun tidak bisa membatalkannya. Pada akhirnya, Majelis menggantikan provinsi bersejarah di Perancis dengan 83 départements, yang dikelola secara seragam menurut daerah dan jumlah penduduk.

Di tengah kegiatan Majelis yang disibukkan dengan urusan konstitusional, krisis keuangan terus berlanjut, sebagian besarnya belum terselesaikan, dan defisit negara semakin meningkat. Honoré Mirabeau kemudian memimpin gerakan untuk mengatasi permasalahan ini, dan Majelis memberi Necker hak penuh untuk mengelola keuangan negara.

10 November 2015

Djamin Ginting, Pejuang Kemerdekaan dari Tanah Karo

Letjen TNI (Purn) Djamin Ginting

Djamin Ginting adalah seorang pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Tanah Karo. Djamin Ginting dilahirkan di desa Suka, kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo. Setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah dia bergabung dengan satuan militer yang diorganisir oleh opsir-opsir Jepang. Pemerintah Jepang membangun kesatuan tentara yang terdiri dari anak-anak muda di Tanah Karo guna menambah pasukan Jepang untuk mempertahankan kekuasaan mereka di benua Asia. Djamin Ginting muncul sebagai seorang komandan pada pasukan bentukan Jepang itu.

Letjend. Djamin Ginting, lahir di Suka sebuah desa di Kabupaten Tanah Karo, 12 Januari 1921 Ayahnya bernama Lantak Ginting Suka dan ibunya bernama Tindang Br. Tarigan. Ia anak ke dua dan tujuh orang bersaudara. Tahun 1928 Ia masuk sekolah Ver Volg School di desanya dan kemudian dilanjutkan ke Schakel School (SD lanjutan) di Kabanjahe. Tahun 1935 Ia masuk MULO di Medan, disana ia kemudian mulai terlibat dalam organisasi diantaranya Pertoempoean Karo bersama- sama temannya antara lain Nelang Sembiring, Kontan Bangun. Selamat Ginting, dll. Ketika perang Asia Timur Raya pecah ia kemudian masuk tentara Pembela Tanah Air (PETA). Ia kemudian banyak terlibat dalam Tentara Keamanan Rakyat dan menjabat sebagai komandan devisi IV di Kabanjahe hingga ke Dairi. Ia menikah dengan Likas Br Tarigan.

Pada masa perang kemerdekaan dan agresi militer Belanda pertama dan kedua. ia terlibat intens dalam mempertahankan kedaulatan RI. Seperti yang dikisahkannya dalam buku Bukit Kadir, ia terlibat beberapa kali pertempuran dan perundingan dengan pihak Belanda. Salah satu peristiwa yang memilukan ketika serangan udara dilakukan oleh tentara Belanda. banyak temannya seperjuangan yang gugur.

Rencana Jepang untuk memanfaatkan putra-putra Karo memperkuat pasukan Jepang kandas setelah Jepang menyerah kepada sekutu pada Perang Dunia II. Jepang menelantarkan daerah kekuasaan mereka di Asia dan kembali pulang ke Jepang. Sebagai seorang komandan, Djamin Ginting bergerak cepat untuk mengkonsolidasi pasukannya. Dia bercita cita untuk membangun satuan tentara di Sumatera Utara. Dia menyakinkan anggotanya untuk tidak kembali pulang ke desa masing masing. Beliau memohon kesediaan mereka untuk membela dan melindungi rakyat Karo dari setiap kekuatan yang hendak menguasai daerah Sumatera Utara. Situasi politik ketika itu tidak menentu. Pasukan Belanda dan Inggris masih berkeinginan untuk menguasai daerah Sumatera.

Dikemudian hari anggota pasukan Djamin Ginting ini akan mucul sebagai pionir-pionir pejuang Sumatera bagian Utara dan Karo. Kapten Bangsi Sembiring, Kapten Selamat Ginting, Kapten Mumah Purba, Mayor Rim Rim Ginting, Kapten Selamet Ketaren, dan lain lain adalah cikal bakal Kodam II/Bukit Barisan yang kita kenal sekarang ini. Ketika Letkol. Djamin Gintings menjadi wakil komandan Kodam II/Bukit Barisan, dia berselisih paham dengan Kolonel M. Simbolon yang ketika itu menjabat sebagai Komandan Kodam II/Bukit Barisan. Djamin Ginting tidak sepaham dengan tidakan Kolonel Simbolon untuk menuntut keadilan dari pemerintah pusat melalui kekuatan bersenjata. Perselisihan mereka ketika itu sangat dipengaruhi oleh situasi politik dan ekonomi yang melanda Indonesia. Disatu pihak, Simbolon merasa Sumatera dianak-tirikan oleh pemerintah pusat dalam bidang ekonomi. Dilain pihak, Ginting sebagai seorang tentara profesianal memegang teguh azas seorang prajurit untuk membela negara Indonesia.

Dalam rangka menghadapi gerakan pemberontakan Nainggolan di Medan (Sumatera Utara) maka Panglima TT I, Letkol Inf Djamin Ginting melancarkan Operasi Bukit Barisan. Operasi ini dilancarkan pada tanggal 7 April 1958. Dengan dilancarkannya operasi Bukit Barisan II ini, maka pasukan Nainggolan dan Sinta Pohan terdesak dan mundur ke daerah Tapanuli. Dipenghujung masa baktinya, Setelah pengakuan kedaulatan RI tahun 1949, ia kemudian aktif sebagai tentara di Kodam I Bukit Barisan sebagai wakil Panglima. Pada masanya sangat banyak masyarakat Karo tertolong dengan bantuannya, dengan memasukkan putra Karo bekerja di perkebunan Negara.

Kemudian ia diangkat menjadi Panglima Kodam I Bukit Barisan menggantikan Kolonel Simbolon. Pada saat itu, sedang terjadi pergolakan PRRI yang dikenal dengan dewan Gajah. Ia membuat strategi untuk menumpas pemberontakan tersebut, yang kemudian membebas tugaskan perwira yang terlibat. Pangkatnya kemudian dinaikkan menjadi Kolonel. Tahun 1962 oleh Mayjend. Ahmad Yani ditarik ke Mabes AD sebagai Asisten II Operasional dan Latihan AD.

Di tahun yang sama pangkatnya kemudian diangkat menjadi Brigadir Jenderal. Di posisinya yang baru. ia banyak terlibat dalam masalah pengambilalihan Irian Barat serta konfrontasi dengan Malaysia. Tahun 1964 pangkatnya dinaikkan lagi menjadi Mayor Jenderal. Pada April 1965, ia menjadi Ketua steering committee seminar pertama TNI AD, yang kemudian melahirkan konsep dwi fungsi ABRI yang diperkenalkan oleh Jenderal A.H Nasution. Pada 30 September 1965 terjadi pemberontakan PKI.

Seorang putrinya bernama Rimenda br Ginting, SH, yang sekarang menjabat sebagai ketua umum Himpunan Masyarakat Karo Indonesia. Semasa hidupnya, Djamin Gintings menulis beberapa buku. Satu diantaranya "Bukit Kadir" mengisahkan perjuangannya di daerah Karo sampai ke perbatasan Aceh melawan Hindia Belanda. Seorang anggotanya, Kadir, gugur disebuah perbukitan di Tanah Karo dalam suatu pertempuran yang sengit dengan pasukan Belanda. Bukit itu sekarang dikenal dengan nama Bukit Kadir. Salah satu peristiwa yang memilukan ketika serangan udara dilakukan oleh tentara Belanda. banyak temannya seperjuangan yang gugur. Kejadian itu kemudian melahirkan lagu Oh, turang yang sangat popular ketika itu.

Tahun-tahun berikutnya ia aktif di lembaga DHN angkatan 45 dan terpilih sebagai Ketua II. Sementara sebagai pembina adalah Soeharto dan Ketua Umumnya adalah Adam Malik. Ia akhirnya terjun ke dunia politik dan kemudian menjadi salah satu pendiri Sekber Golkar mewakili Gakari (Gabungan Karya Rakyat Indonesia). Di tahun 1970 ia menamatkan pendidikannya dan Fisipol Untag dengan gelar dokterandus (Drs). Di tahun 1971 ia terpilih kembali sebagai Ketua I DHN 45 dan sebagai Ketua Umumnya adalah Soeharto. Selama hidupnya Djamin Ginting di kenal sangat mencintai Karo baik dalam perbuatan dan tindakannya sebagai pejuang dan pejabat Negara.

Karirnya di militer juga terus menanjak dengan pangkat Letjen tahun 1971. Dan di tahun ini juga kemudian terpilih menjadi anggota DPR RI Komisi II. Soeharto yang terpilih menjadi presiden, kemudian mengangkat Djamin Gintings menjadi Duta Besar untuk Canada. Namun karirnya menjadi duta besar tidak selesai dijalaninya karena beliau wafat sebelum masa tugasnya selesai. Ia meninggal dunia tanggal 23 Oktober 1974 di Montreal Canada dan kemudian dikebumikan di TMP Kalibata.

Jabatan yang pernah diduduki, Kepala Staf Kodam II/Bukit Barisan , Assisten Dua Bagian Perang di TNI, Panglima TT I Bukit Barisan., Panglima Sumatera Utara, dengan pangkat Mayor Jenderal, menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Front Nasional, di Kabinet Dwikora Revisi Kedua., Penggerak dari pembentukan GAKARI yang nantinya akan membentuk GOLKAR.

6 Agustus 2015

Perjalanan dinas ke Bumi Rafflesia

Perjalanan dinas kali ini kami mengunjungi kota Bengkulu yang terletak di bagian barat daya Pulau Sumatera dan terkenal dengan bunga raksasa Rafflesia Arnoldii (dinamakan sesuai dengan nama penemunya yaitu Thomas Stamford Raffles dan Joseph Arnold). Bengkulu pernah dikuasai oleh Inggris sebelum diserahkan kepada Belanda.

Bengkulu menjadi salah satu mata rantai yang selalu dicatat oleh sejarah. Salah satu alasannya karena di bumi Rafflesia ini pula, Soekarno presiden pertama Republik Indonesia pernah menjalani pengasingan oleh pemerintah kolonial Belanda, selama empat tahun, 1938-1942. Soekarno kemudian menemukan cintanya di sini. Dia terpikat hati dengan Fatmawati. Ketika Soekarno menjadi Presiden Republik Indonesia, Ibu Fatmawati menjadi seorang ibu negara.

Di kota ini pula terdapat Benteng Marlborough sebagai benteng pertahanan Inggris terkuat di wilayah timur, yang didirikan di atas bukit buatan, menghadap ke arah kota Bengkulu dan memunggungi samudera Hindia.


Rumah Pengasingan Soekarno


Fort Marlborough

25 Desember 2013

Isaac Newton Pencetus Teori Gravitasi


Bahwa setiap benda yang pada awalnya tidak bergerak atau diam menjadi bergerak atau setiap benda yang pada awalnya bergerak menjadi diam, hal tersebut terjadi karena ada yang menggerakan atau menghentikan benda tersebut. Kita mengenalnya sebagai "gaya". 

Mengapa buah jatuh atau bergerak menuju permukaan bumi setelah terlepas dari tangkainya ? Hukum Newton menyatakan bahwa ika buah bergerak, maka pasti ada gaya yang bekerja pada buah tersebut. Gaya yang menyebabkan buah atau benda apapun yang jatuh menuju permukaan bumi disebut gaya gravitasi. Berbicara perihal ini pasti kita akan mengenal salah satu pencetus teori gravitasi, yaitu Isaac Newton.

Sir Isaac Newton lahir pada tanggal 25 Desember 1642 di Woolsthorpe, Lincolnshire. Ia merupakan seorang matematikawan, fisikawan, filsuf alam, ahli astronomi yang berasal dari Inggris. Ayahnya meninggal tiga bulan sebelum kelahiran Newton.

Ayahnya bernama Isaac Newton dan ibunya bernama Hannah Ayscough. Saat Newton berusia 3 tahun, ibunya menikah kembali dan menitipkan Newton agar diasuh oleh neneknya yang bernama Margery Ayscough. Newton tidak suka dengan ayah tirinya dan menyimpan rasa benci terhadap ibunya karena menikah dengan pria tersebut.

Newton mulai mengenyam pendidikan saat berusia 12 tahun, bersekolah di King's School, Grantham, Lincolnshire, di sekolah tersebut ia menjadi salah satu siswa terbaik. ia dikeluarkan dari sekolah karena ibunya meminta agar Newton kembali bekerja sebagai petani. 

Dengan kepandaian seperti itu membuat pihak sekolah memberikan ia peluang kembali kepada Newton agar untuk menyelesaikan studi nya dengan meyakinkan ibunya dan keluarganya. Akhirnya ia dikirim kembali bersekolah oleh ibunya sehingga ia dapat menamatkan pendidikannya. Pada usia 18 tahun ia berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan.

Pada Juni 1661, Newton diterima di Trinity College, Cambridge. Newton sangat menguasai pelajaran matematika, ilmu pengetahuan dan fisika. Pada tahun 1665, ia menemukan teorema binomial umum dan mulai mengembangkan teori matekatika yang pada akhirnya berkembang yang saat ini kita kenal, yaitu kalkulus. Ia suka membaca gagasan-gagasan filsuf modern seperti Descartes dan astronom seperti copernicus, Galileo, dan Kepler.

Newton sering melakukan penelitian-penelitian dirumahnya selama 2 tahun yang mendorongnya untuk mengembangkan teori kalkulus, optika, dan hukum Gravitasi. Ia lulus pada tahun 1665 dan tahun 1667, ia kembali ke Cambridge sebagai pengajar di Trinity. 

Pada tahun 1666. Saat siang hari Newton sedang membaca mengenai teori Copernicus, Galileo, dan Kepler mengenai orbit bumi di bawah sebuah pohon apel. Sebuah apel jatuh menimpanya. Saat itu juga ia mulai melakukan penelitian. Tujuh tahun ia baru menemukan jawabannya kemudian menarik kesimpulan bahwa bulan juga mempunyai daya tarik karena bulan tidak jatuh ke bumi sama seperti apel yang dikenai dengan gravitasi. 

Newton berasas dasar pemikiran Galileo, analitikal geometri dari Descartes dan hukum Kepler mengenai gerakan planet. Ketiga orang inilah yang membantunya dalam penelitian. Ia merumuskan tiga hukum yang mengatur semua gerakan dalam alam semesta dari galaksi di jagad raya sampai elektroin berputar mengelilingi nukleus. Ada tiga hukum Newton sebagai berikut :

Hukum Newton I 
setiap benda akan memiliki kecepatan yang konstan kecuali ada gaya yang resultannya tidak nol bekerja pada benda tersebut. Berarti jika resultan gaya nol, maka pusat massa dari suatu benda tetap diam, atau bergerak dengan kecepatan konstan (tidak mengalami percepatan).

Hukum Newton II
tentang hubungan antara gaya, massa dan percepatan, yaitu semakin besar gaya yang bekerja pada sebuah benda, maka semakin besar percepatannya, tapi semakin pejal benda semakin besar pelambatannya.

Hukum Newton III
tentang aksi dan reaksi, yaitu ketika suatu benda memberikan gaya pada benda kedua, benda kedua juga melepaskan gaya yang sama, namun berlawanan arah dengan gaya benda pertama. 

Selain ilmu mengenai alam semesta, Newton juga melakukan penelitian mengenai cahaya. Pada tahun 1672 Newton diterima sebagai anggota Royal Society, sebuah kelompok ilmuwan yang mengabdikan diri kepada metode eksperimental (bersangkutan dengan hal percobaan). Ia menyumbangkan salah satu teleskopnya bersaa penelitiannya mengenai cahaya. Newton mengembangkn teleskop buatan Galileo yang disebut dengan teleskop refleksi.

Pada tahun 1696, Newton diangkat sebagai Pelindung Mata Uang oleh pemerintah. Tugasnya untuk mengawasi penggantian mata uang Inggris yang telah tua dan rusak dengan mata uang baru yang lebih tahan lama tidak hanya itu, ia juga bertanggung jawab dalam hal membongkar jaringan pemalsu uang.

Royal Society membentuk sebuah kelompok kecil, yang dipimpin oleh Robert Hooke untuk menilai temuan-temuan baru salah satunya juga untuk meneliti temuan dari Newton. Hooke mempunyai gagasan sendiri mengenai cahaya sebab itu ia tidak mau untuk menerima temuan Newton. Karena hal tersebut mereka berdua bersitegang.

Pada tahun 1703, Newton dianugerahi gelar Sir dan ia juga terpilih sebagai persiden Royal Society. Ia menerbitkan karya pertamanya mengenai cahaya. Buku optik meliputi warna cahaya, pemantulan, dan spektru cahaya. Temuannya mengenai optik diakui secara resmi oleh pada tahun 1705 ketika ia juga menjadi orang pertama yang dianugerahi gelar kebangsawanan karena prestasinya dalam bidang ilmu pengetahuan.


Prestasi Ilmiah Newton

Optik
Newton membuat kemajuan besar dalam studi tentang optik. Secara khusus ia mengembangkan spektrum dengan memisahkan cahaya putih melalui prisma.

Teleskop
Terbuat perbaikan yang signifikan untuk pengembangan teleskop. Namun, ketika ide-idenya dikritik oleh Hooke, Newton mengundurkan diri dari debat publik. Ia mengembangkan sikap antagonis dan bermusuhan dengan Hooke, sepanjang hidupnya.

Mekanik dan Gravitasi
Dalam bukunya yang terkenal Principa Mathematica. Newton menjelaskan tiga hukum gerak yang meletakkan kerangka kerja untuk fisika modern. Ini melibatkan menjelaskan gerakan planet. 

Pada tahun 1727, Newton meninggal dunia dalam usia 84 tahun. Ia mendapat kehormatan dimakamkan di Westminster Abbey sebuah makam bagi keluarga raja, orang terkenal, pahlawan, dan ilmuwan. Untuk mengenang dedikasinya dalam ilmu pengetahuan dibuatlah mata uang bergambar Newton.


Isaac Newton/Quotes

If I have seen further than others, it is by standing upon the shoulders of giants.

I can calculate the motion of heavenly bodies, but not the madness of people.

Tact is the knack of making a point without making an enemy.

Truth is ever to be found in simplicity, and not in the multiplicity and confusion of things.

A man may imagine things that are false, but he can only understand things that are true, for if the things be false, the apprehension of them is not understanding.

This most beautiful system of the sun, planets and comets, could only proceed from the counsel and dominion of an intelligent and powerful Being.

To every action there is always opposed an equal reaction.

If I have done the public any service, it is due to my patient thought.

To myself I am only a child playing on the beach, while vast oceans of truth lie undiscovered before me.

Errors are not in the art but in the artificers.


5 Desember 2013

Pimpin Pasukan Urung Melawan Penjajah

Kiras Bangun
 
Pahlawan kebanggaan Tanah Karo ini menggalang kekuatan lintas agama dan lintas suku di Sumatera Utara dan Aceh untuk menentang penjajahan Belanda.

Kiras Bangun, pejuang Batak Karo melawan kolonialis Belanda adalah putera pasangan Tanda Bangun dan Ibu Beru Ginting. Ia dilahirkan di Kampung Batu Karang, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara pada tahun 1852. Ayahnya memiliki 3 orang isteri. Kiras Bangun lima bersaudara, satu perempuan dan empat laki-laki.

Kiras Bangun tidak pernah mengenyam pendidikan formal, karena pada waktu itu sekolah belum dikenal di Tanah Karo. Kiras Bangun diangkat menjadi Ketua Adat Karo Lima Senina dan kemudian menjadi Penghulu Lima Senina di Batu Karang.

Berkat kewibawaan dan kemampuannya dalam menyelesaikan suatu masalah, Kiras Bangun sering ditunjuk menjadi juru damai antar urung (satu kelompok kampung/kumpulan kampung). Pihak-pihak yang bersengketa pun menerimanya sebagai pendamai. Ia juga dikenal sebagai seorang pemimpin yang arif, tegas dan berwibawa. Dengan kepribadian tersebut, ia dapat mempersatukan sejumlah pimpinan atau raja Telu Kuru, Si Empat Teran, Si Lima Senina Perbesi dengan Kuala, Sepuluh Pitu dan Juhar. Tidak heran jika Kepala Kampung mengakuinya sebagai primus inter pares (yang pertama diantara yang sama).

Pada tahun 1901, Belanda membuka markasnya di Kabanjahe, Kabupaten Karo. Kuatnya pengaruh ketokohan Kiras Bangun tidak luput dari perhatian pemerintah kolonial Belanda sehingga mengajak Kiras Bangun untuk bekerjasama dengan imbalan jabatan, uang dan senjata, namun tawaran itu ditolak Kiras Bangun. Setahun kemudian Belanda kembali menawarkan kerjasama padanya, kali ini dengan mengirimkan pendeta Protestan. Kiras Bangun masih tetap pada pendiriannya untuk tidak bekerjasama dengan pemerintah kolonial Belanda, sang pendeta pun diusirnya.

Penolakan dan pengusiran yang dilakukannya itu membuat Belanda marah. Untuk menghadapi Belanda, rakyat bersepakat untuk membangun benteng pertahanan berupa parit. Kiras Bangun ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi perlawanan untuk menyerbu Kabanjahe berdasarkan hasil musyawarah. Belanda pun berhasil diusir keluar dari Kabanjahe setelah tiga bulan menguasai wilayah itu.

Setelah peristiwa itu, Kiras Bangun kemudian menggalang kekuatan dengan pejuang dari Aceh. Kerjasama lintas agama pun digalangnya seperti dengan para pejuang-pejuang dari Aceh di Tanah Alas, Gayo Lues, Singkil dan pejuang dari Aceh Selatan. Dalam perjuangan menentang Belanda, Kiras Bangun yang memiliki nama lain Gara Mata ini dibantu para tokoh dari Aceh Tenggara dan Aceh Selatan. Gara Mata mengadakan pertemuan urung di Tiga Jeraya sehingga mampu mengerahkan ribuan orang mengangkat sumpah setia melawan Belanda. Kerjasama yang digalang dari lintas suku dan agama itu menghasilkan pasukan yang disebut pasukan Sembisa/Urung yang bertujuan :
  • Mengusir Belanda sebab mengubah cara tata krama kehidupan rakyat Karo;
  • Kalau Belanda datang semua rakyat Karo akan melawan; dan
  • Untuk menghimpun tenaga pasukan yang kuat.

Setahun kemudian, terjadi pertempuran antara pasukan Urung dengan Belanda. Korban jiwa pun berjatuhan, sebanyak 20 orang pasukan Urung tewas di Sulalapi, sementara dari kubu Gara Mata sebanyak 10 orang tewas di Lingga, dan 30 orang tewas di Lingga Julu.

Ketika terjadi pertempuran di Batu Karang, Belanda yang saat itu sudah menduduki Kabanjahe diultimatum oleh Kiras Bangun. Tapi ultimatum tersebut tidak ditanggapi dan pertempuran pun kembali terjadi. Karena peralatan yang tidak seimbang maka pasukan Kiras Bangun menerapkan strategi menyerang, melarikan diri lalu berbaur dengan penduduk setempat.

Ketidakseimbangan kekuatan menimbulkan korban jiwa paling banyak dari kubu Kiras Bangun yaitu sebanyak 30 orang tewas sementara korban dari pihak Belanda hanya berjumlah 3 orang. Pasukan Kiras Bangun pun mundur ke Negeri yang terletak 3 km dari Batukarang yang dipisah oleh Lau Biang yang bertebing terjal, kemudian menuju Lenggamanik.

Walaupun dalam kondisi terpencar, namun keesokan harinya pasukan Urung Gara Mata dapat dikoordinasikan kembali dengan berkumpul di Kuala. Belanda terus melakukan pengejaran, pasukan Kiras Bangun yang terdesak bergerak menuju Liren, Kua Gamber Kemawa, Panah dan Lampetandal sebagai basis pertahanan.

Setelah Belanda berhasil menguasai wilayah Batu Karang, sebanyak 200 tentara melakukan pengejaran terhadap tokoh-tokoh Urung, yaitu Kiras Bangun dan Urung yang dikalahkan sebanyak 15 orang supaya membayar kerugian kepada Belanda.

Dengan taktik perang gerilya, Kiras Bangun kemudian menggerakkan perlawanan dari Aceh Tenggara dan Dairi pada tahun 1905. Sementara Belanda menerapkan strategi tipu muslihat oportuniteit beginsel (prinsip oportunitas atau memanfaatkan situasi). Kiras Bangun yang keluar dari tempat persembunyiannya di Dairi kemudian ditangkap dan dibuang di Riung kemudian dilepaskan pada tahun 1909.

Meski sudah dibebaskan antara tahun 1909-1919, Kiras Bangun masih tetap dalam pengawasan oleh pasukan Marsose Belanda. Dibantu kedua anaknya, Kiras Bangun memimpin gerakan bawah tanah antara tahun 1919-1926 sampai perlawanan di Tanah Karo pun meletus. Anak Kiras Bangun yang ikut membantu perjuangan sang ayah itu dibuang ke Cipinang.

Prinsip Kiras Bangun yang anti-Belanda secara konsisten tetap dipertahankannya melalui bidang kemanusiaan antara tahun 1926-1942. Kiras Bangun meninggal dunia pada 22 Oktober 1942 di Batu Karang. Perjuangan Kiras Bangun memberikan nilai keteladanan dimana ia dapat menyatukan suku-suku bangsa yang berbeda adat istiadat maupun agama untuk melawan penjajah. Atas jasa-jasanya kepada negara, Kiras Bangun dianugerahi gelar pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI Nomor 082/TK/Tahun 2005, tanggal 7 November 2005.