Tampilkan postingan dengan label Agresi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agresi. Tampilkan semua postingan

10 Mei 2016

Garis Maginot Penyebab Kejatuhan Perancis di PD II


Garis Maginot adalah satu garisan kubu konkrit, penghalang tank, senjata api otomatis dan pertahanan lain yang dibangun oleh pihak Perancis sepanjang perbatasannya dengan Jerman dan Italia selepas Perang Dunia I. Secara umum istilah tersebut merujuk kepada keseluruhan sistem atau pertahanan yang menghadap ke Jerman sementara Garis Alpen bagi baris pertahanan Perancis-Italia. Pihak Perancis percaya bahwa kubu tersebut akan memberikan tenggang waktu lebih bagi angkatan bersenjata mereka sekiranya diserang dan mengimbangi kelemahan jumlah tentara. Keberhasilan dalam pertempuran pertahanan statis dalam Perang Dunia I merupakan pengaruh utama pemikiran pihak Perancis.

Pertahanan ini pada mulanya dirancang oleh Marshal Joffre. Dia ditentang oleh golongan modernis seperti Paul Reynaud dan Charles de Gaulle yang mendukung pertempuran modern dengan tank dan pesawat tempur. Joffre mendapat dukungan dari Pétain dan terdapat beberapa laporan dan komisi dianjurkan oleh pemerintah. Tetapi André Maginot-lah yang menyakinkan pemerintah untuk menggunakan sistem pertahanan ini. Maginot merupakan veteran Perang Dunia I yang menjadi Menteri Urusan Veteran Perancis dan Menteri Pertahanan (1922-1924; 1929-1930; 1931-1932).

Garis ini dibangun bertahap dari tahun 1930 oleh STG (Section Technique du Génie) serta oleh CORF (Commission d'Organisation des Régions Fortifiées). Pembangunan selesai pada 1935 dengan biaya sekitar 3 juta franc pada masa itu.

Spesifikasi pertahanan ini amat tinggi dengan kompleks kubu pertahanan bawah tanah (bunker) yang bersambung dengan meluas untuk beribu-ribu tentara, terdapat 108 benteng utama (ouvrages) setiap 15 kilometer, ouvrages kecil dan casement di antaranya dengan lebih 100 kilometer terowongan.

Kubu tersebut tidak melanjutkan Hutan Ardennes yang menurutnya "tak dapat ditembus dan dilewati" atau sepanjang perbatasan dengan Belgia kerana negara tersebut telah menandatangani persekutuan pada tahun 1920, di mana tentara Perancis diizinkan beroperasi di Belgia sekiranya tentara Jerman datang menginvasi atau menyerbu. Apabila Belgia membatalkan perjanjian tersebut pada tahun 1936 dan mendeklarasikan netralitas, Garis Maginot diperpanjang dengan segera sepanjang perbatasan Perancis-Belgia, tetapi tidak sekuat dengan Garis yang lain.

Terdapat pembangunan yang tergesa-gesa pada tahun 1939-1940 dengan peningkatan umum sepanjang Garisa Pertahanan. Akhir Garis Maginot (Maginot Linie) terkuat sekitar kawasan industri Metz, Lauter dan Alsace, sementara kawasan lain secara perbandingan tidak sekuat dengan kawasan itu.

Rencana serbuan Jerman pada Perang Dunia II 1940 (Sichelschnitt) disusun untuk menangani Garis Maginot. Pasukan pengumpan ditempatkan berhadapan dengan kawasan itu di kawasan perbentengan yang dikenal dengan Garis Siegfroed yang sebenarnya tidak ada apa apanya dibandingkan dengan Garis Maginot. Pasukan lainnya menembus melalui Negara Rendah (Low Countries) Belgia dan Belanda dan Luxemburg, termasuk juga melintasi Hutan Ardennes yang terletak di utara pertahanan utama Perancis. Dengan itu, pasukan Nazi Jerman berhasil menghindari menyerang Garis Maginot secara langsung. Saat penyerbuan 10 Mei, tentara Jerman masuk ke dalam Perancis dalam tempo lima hari dan terus maju hingga 24 Mei, ketika mereka berhenti hampir mendekati Dunkirk atas perintah Adolf Hitler secara langsung kepada Jendral Heinz Guderian yang memimpin pasukan lapis baja yang menyerbu Perancis dengan menembus kawasan hutan Ardennes dari Sedan. Pada awal Juni tentara Jerman telah mengisolasi Garis pertahanan tersebut dari bagian lain Perancis dan pemerintah Perancis telah mulai mendiskusikan mengenai gencatan senjata, yang ditanda tangani pada 22 Juni 1940 di Compiègne. Tetapi Garis Maginot masih utuh dan dipimpin oleh beberapa komandan yang tetap bertahan; dan pergerakan pasukan Fasis Italia, yang juga ikut menyerang Perancis berhasil ditahan. Akhirnya Maxime Weygand menandatangani penyerahan dan pasukan tentara diperintahkan agar menyerah atau tidak memberikan perlawanan.

Ketika pasukan Sekutu melakukan serangan balik pada Juni 1944 Garis Maginot itu sekali lagi dilalui, dengan pertempuran hanya berada pada sebagian kubu dekat Metz dan di utara Alsace pada akhir tahun 1944.

Setelah perang, Garis Maginot kembali digunakan Perancis dan melalui beberapa modifikasi, serta pembangunan kembali, yang digunakan sebagai benteng dan bunker utama dalam menghadapi perang nuklir yang sewaktu waktu pecah antara NATO dengan Pakta Warsawa yang diyakini akan menjadikan kawasan Eropa sebagai medan tempur utama. Ketika Perancis menarik kekuatan militernya dari NATO (pada tahun 1966) konsep pertahanan Garis Maginot kemudian ditinggalkan. Dengan sikap independen Perancis terhadap perang dingin dan perang nuklir yang diambil oleh pemerintahan presiden Charles de Gaulle, serta keinginan Perancis sebagai kekuatan adikuasa berikutnya, seperti halnya Cina setelah Amerika Serikat dan Uni Soviet maka pada tahun 1969 Garis Maginot ditinggalkan oleh pemerintah, dengan sebagian dari perbentengan ini serahkan kepada umum untuk dijadikan kawasan wisata sejarah dan sisanya dibiarkan hancur.

Istilah "Garis Maginot" telah digunakan sebagai metafora bagi "sesuatu yang amat diyakini, walaupun sebenarnya tidak boleh diharapkan". Sebenarnya, konsep pertahanan ini berhasil melaksanakan tujuan yang sesungguhnya , melindungi sebagian Perancis, dan memaksa musuh menghindarinya sebagaimana yang direncanakan. Garis Maginot merupakan sebagian dari rencana pertahanan Perancis yang lebih besar pada masa waktu itu, di mana musuh akhirnya akan bertemu dengan suatu pertahanan yang kuat oleh tentara Perancis, tetapi Perancis tidak melaksanakan bagian berikutnya, sehingga mendorong kepada hilangnya kelebihan Garis Maginot.

26 Agustus 2015

Agresi Militer Belanda I dan Politik Adu Domba

Tanggal 21 Juli 1947, Belanda melancarkan Agresi Militer I di Indonesia yang belum 2 tahun merdeka. Saat itu diputuskan untuk menempuh jalur militer tersebut, dengan dalih penafsiran Perjanjian Linggarjati, bahwa Indonesia merupakan Negara Federal yang masih di bawah kekuasaan dari Negeri Kincir Angin tersebut. Sementara, bagi Indonesia, operasi Agresi Militer Belanda tersebut telah melanggar Perjanjian Linggarjati, yaitu pada kesepakatan yang diwakili masing-masing delegasi Sutan Syahrir dan Pro. Schermerhorn, Belanda mengakui Indonesia secara de facto.

10 Juni 2010

Konfrontasi Indonesia-Malaysia

Konfrontasi Indonesia-Malaysia atau yang lebih dikenal sebagai Konfrontasi saja adalah sebuah perang mengenai masa depan Malaya, Brunei, Sabah dan Sarawak yang terjadi antara Federasi Malaysia dan Indonesia pada tahun 1962-1966.

Perang ini berawal dari keinginan Federasi Malaya lebih dikenali sebagai Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961 untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak kedalam Federasi Malaysia yang tidak sesuai dengan perjanjian Manila Accord oleh karena itu Keinginan tersebut ditentang oleh Presiden Soekarno yang menganggap pembentukan Federasi Malaysia yang sekarang dikenal sebagai Malaysia sebagai "boneka Inggris" merupakan kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk baru serta dukungan terhadap berbagai gangguan keamanan dalam negeri dan pemberontakan di Indonesia.


Pelanggaran perjanjian internasional konsep THE MACAPAGAL PLAN antara lain melalui perjanjian Manila Accord tanggal 31 Juli 1963, Manila Declaration tanggal 3 Agustus 1963, Joint Statement tanggal 5 Agustus 1963 mengenai dekolonialisasi yang harus mengikut sertakan rakyat Sarawak dan Sabah yang status kedua wilayah tersebut sampai sekarang masih tercatat pada daftar Dewan Keamanan PBB. sebagai wilayah Non-Self-Governing Territories.


Latar belakang
Pada 1961, Kalimantan dibagi menjadi empat administrasi. Kalimantan, sebuah provinsi di Indonesia, terletak di selatan Kalimantan. Di utara adalah Kerajaan Brunei dan dua koloni Inggris; Sarawak dan Borneo Utara, kemudian dinamakan Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia Tenggara, Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung Malaya, Federasi Malaya dengan membentuk Federasi Malaysia.


Rencana ini ditentang oleh Pemerintahan Indonesia; Presiden Soekarno berpendapat bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia. Filipina juga membuat klaim atas Sabah, dengan alasan daerah itu memiliki hubungan sejarah dengan Filipina melalui Kesultanan Sulu.


Di Brunei, Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) memberontak pada 8 Desember 1962. Mereka mencoba menangkap Sultan Brunei, ladang minyak dan sandera orang Eropa. Sultan lolos dan meminta pertolongan Inggris. Dia menerima pasukan Inggris dan Gurkha dari Singapura. Pada 16 Desember, Komando Timur Jauh Inggris (British Far Eastern Command) mengklaim bahwa seluruh pusat pemberontakan utama telah diatasi, dan pada 17 April 1963, pemimpin pemberontakan ditangkap dan pemberontakan berakhir.


Filipina dan Indonesia resminya setuju untuk menerima pembentukan Federasi Malaysia apabila mayoritas di daerah yang hendak dilakukan dekolonial memilihnya dalam sebuah referendum yang diorganisasi oleh PBB. Tetapi, pada 16 September, sebelum hasil dari pemilihan dilaporkan. Malaysia melihat pembentukan federasi ini sebagai masalah dalam negeri, tanpa tempat untuk turut campur orang luar, tetapi pemimpin Indonesia melihat hal ini sebagai perjanjian Manila Accord yang dilanggar dan sebagai bukti kolonialisme dan imperialisme Inggris.
 
“Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, ketika para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul Rahman—Perdana Menteri Malaysia saat itu—dan memaksanya untuk menginjak Garuda, amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak.”     
Soekarno yang murka karena hal itu mengutuk tindakan demonstrasi anti-Indonesian yang menginjak-injak lambang negara Indonesia dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama Ganyang Malaysia. Soekarno memproklamirkan gerakan Ganyang Malaysia melalui pidato beliau yang amat bersejarah, berikut ini:
 
“Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Yoo...ayoo... kita... Ganjang...
Ganjang... Malaysia
Ganjang... Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!

Soekarno.”     

Perang
Pada 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio mengumumkan bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Pada 12 April, sukarelawan Indonesia (sepertinya pasukan militer tidak resmi) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase. Tanggal 3 Mei 1963 di sebuah rapat raksasa yang digelar di Jakarta, Presiden Sukarno mengumumkan perintah Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang isinya:
  • Pertinggi ketahanan revolusi Indonesia
  • Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak dan Sabah, untuk menghancurkan Malaysia
Pada 27 Juli, Sukarno mengumumkan bahwa dia akan meng-"ganyang Malaysia". Pada 16 Agustus, pasukan dari Rejimen Askar Melayu DiRaja berhadapan dengan lima puluh gerilyawan Indonesia.

Meskipun Filipina tidak turut serta dalam perang, mereka memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia.


Federasi Malaysia resmi dibentuk pada 16 September 1963. Brunei menolak bergabung dan Singapura keluar di kemudian hari.


Ketegangan berkembang di kedua belah pihak Selat Malaka. Dua hari kemudian para kerusuhan membakar kedutaan Britania di Jakarta. Beberapa ratus perusuh merebut kedutaan Singapura di Jakarta dan juga rumah diplomat Singapura. Di Malaysia, agen Indonesia ditangkap dan massa menyerang kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur.


Di sepanjang perbatasan di Kalimantan, terjadi peperangan perbatasan; pasukan Indonesia dan pasukan tak resminya mencoba menduduki Sarawak dan Sabah, dengan tanpa hasil.


Pada 1964 pasukan Indonesia mulai menyerang wilayah di Semenanjung Malaya. Di bulan Mei dibentuk Komando Siaga yang bertugas untuk mengkoordinir kegiatan perang terhadap Malaysia (Operasi Dwikora). Komando ini kemudian berubah menjadi Komando Mandala Siaga (Kolaga). Kolaga dipimpin oleh Laksdya Udara Omar Dani sebagai Pangkolaga. Kolaga sendiri terdiri dari tiga Komando, yaitu Komando Tempur Satu (Kopurtu) berkedudukan di Sumatera yang terdiri dari 12 Batalyon TNI-AD, termasuk tiga Batalyon Para dan satu batalyon KKO. Komando ini sasaran operasinya Semenanjung Malaya dan dipimpin oleh Brigjen Kemal Idris sebaga Pangkopur-I. Komando Tempur Dua (Kopurda) berkedudukan di Bengkayang, Kalimantan Barat dan terdiri dari 13 Batalyon yang berasal dari unsur KKO, AURI, dan RPKAD. Komando ini dipimpin Brigjen Soepardjo sebagai Pangkopur-II. Komando ketiga adalah Komando Armada Siaga yang terdiri dari unsur TNI-AL dan juga KKO. Komando ini dilengkapi dengan Brigade Pendarat dan beroperasi di perbatasan Riau dan Kalimantan Timur.


Di bulan Agustus, enam belas agen bersenjata Indonesia ditangkap di Johor. Aktivitas Angkatan Bersenjata Indonesia di perbatasan juga meningkat. 


Tentera Laut DiRaja Malaysia mengerahkan pasukannya untuk mempertahankan Malaysia. Tentera Malaysia hanya sedikit saja yang diturunkan dan harus bergantung pada pos perbatasan dan pengawasan unit komando. Misi utama mereka adalah untuk mencegah masuknya pasukan Indonesia ke Malaysia. 

Sebagian besar pihak yang terlibat konflik senjata dengan Indonesia adalah Inggris dan Australia, terutama pasukan khusus mereka yaitu Special Air Service(SAS). Tercatat sekitar 2000 pasukan khusus Indonesia (Kopassus) tewas dan 200 pasukan khusus Inggris/Australia (SAS) juga tewas setelah bertempur di belantara kalimantan (Majalah Angkasa Edisi 2006).

Pada 17 Agustus pasukan terjun payung mendarat di pantai barat daya Johor dan mencoba membentuk pasukan gerilya. Pada 2 September 1964 pasukan terjun payung didaratkan di Labis, Johor. Pada 29 Oktober, 52 tentara mendarat di Pontian di perbatasan Johor-Malaka dan ditangkap oleh pasukan Resimen Askar Melayu DiRaja dan Selandia Baru dan bakinya ditangkap oleh Pasukan Gerak Umum Kepolisian Kerajaan Malaysia di Batu 20, Muar, Johor.


Ketika PBB menerima Malaysia sebagai anggota tidak tetap. Sukarno menarik Indonesia dari PBB pada tanggal 20 Januari 1965 dan mencoba membentuk Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces, Conefo) sebagai alternatif.


Sebagai tandingan Olimpiade, Soekarno bahkan menyelenggarakan GANEFO (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10-22 November 1963. Pesta olahraga ini diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 wartawan asing.


Pada Januari 1965, Australia setuju untuk mengirimkan pasukan ke Kalimantan setelah menerima banyak permintaan dari Malaysia. Pasukan Australia menurunkan 3 Resimen Kerajaan Australia dan Resimen Australian Special Air Service. Ada sekitar empat belas ribu pasukan Inggris dan Persemakmuran di Australia pada saat itu. Secara resmi, pasukan Inggris dan Australia tidak dapat mengikuti penyerang melalu perbatasan Indonesia. Tetapi, unit seperti Special Air Service, baik Inggris maupun Australia, masuk secara rahasia (lihat Operasi Claret). Australia mengakui penerobosan ini pada 1996.


Pada pertengahan 1965, Indonesia mulai menggunakan pasukan resminya. Pada 28 Juni, mereka menyeberangi perbatasan masuk ke timur Pulau Sebatik dekat Tawau, Sabah dan berhadapan dengan Resimen Askar Melayu Di Raja dan Kepolisian North Borneo Armed Constabulary.


Pada 1 Juli 1965, militer Indonesia yang berkekuatan kurang lebih 5000 orang melabrak pangkalan Angkatan Laut Malaysia di Sampurna. Serangan dan pengepungan terus dilakukan hingga 8 September namun gagal. Pasukan Indonesia mundur dan tidak penah menginjakkan kaki lagi di bumi Malaysia. Peristiwa ini dikenal dengan "Pengepungan 68 Hari" oleh warga Malaysia.


Akhir konfrontasi
Menjelang akhir 1965, Jendral Soeharto memegang kekuasaan di Indonesia setelah berlangsungnya G30S/PKI. Oleh karena konflik domestik ini, keinginan Indonesia untuk meneruskan perang dengan Malaysia menjadi berkurang dan peperangan pun mereda.


Pada 28 Mei 1966 di sebuah konferensi di Bangkok, Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik. Kekerasan berakhir bulan Juni, dan perjanjian perdamaian ditandatangani pada 11 Agustus dan diresmikan dua hari kemudian.



Sumber: Wikipedia bahasa Indonesia