21 Februari 2010

Minggu Palma (Palm Sunday)

Minggu Palma adalah hari peringatan dalam liturgi gereja Kristen yang selalu jatuh pada hari Minggu sebelum Paskah. Perayaan ini merujuk kepada peristiwa yang dicatat pada empat Injil, yaitu Markus 11:1-11, Matius 21:1-11, Lukas 19:28-44 dan Yohanes 12:12-19. Dalam perayaan ini dikenang peristiwa masuknya Yesus ke kota Yerusalem sebelum Ia disalibkan.

Masuknya Yesus Kristus ke kota suci Yerusalem adalah hal yang istimewa, sebab terjadinya sebelum Yesus mati dan bangkit dari kematian. Itulah sebabnya Minggu Palma disebut pembuka pekan suci, yang berfokus pada pekan terakhir Yesus di kota Yerusalem. Dalam liturgi Minggu Palem, umat dibagikan daun palem dan ruang gereja dipenuhi ornamen palem.

Simbol Palem dalam Minggu Palma

Daun palem adalah simbol dari kemenangan. Daun palem ini membawa arti ke arah simbol Kristen. Daun palem digunakan untuk menyatakan kemenangan martir atas kematian. Martir sering digambarkan dengan daun pelem di antara tempat atau tambahan untuk instrumen dari kesyahidan. Kristus kerap kali menunjukkan hubungan daun palem sebagai simbol kemenangan atas dosa dan kematian. Lebih jelas lagi, hal itu diasosiasikan dengan kejayaan-Nya memasuki Yerusalem, ( Yohanes 12:12-13).

Daun palem memiliki warna hijau, hijau adalah warna dari tumbuh-tumbuhan dan musim semi. Oleh karena itu simbol kemenangan dari musim semi diatas musim salju atau kehidupan di atas kematian, menjadi sebuah campuran dari kuning dan biru itu juga melambangkan amal dan registrasi dari pekerjaan jiwa yang baik.

Saat Minggu Palma, umat melambai-lambaikan daun palem sambil bernyanyi. Hal ini menyatakan keikutsertaan umat bersama Yesus dalam arak-arakan menuju Yerusalem. Ini menyatakan tujuan yang akan dicapai pada masa yang akan datang: kota Allah, di mana ada kedamaian.

Minggu Sengsara 

Pada Minggu Palma, gereja tidak hanya mengenang peristiwa masuknya Yesus ke kota Yerusalem melainkan juga mengenang akan kesengsaraan Yesus. Oleh karena itu, Minggu Palma juga disebut sebagai Minggu Sengsara. Dalam tradisi peribadahan gereja, setelah umat melakukan prosesi daun palem (melambai-lambaikan daun palem), umat akan mendengarkan pembacaan kisah-kisah sengsara Yesus yang diambil dari Injil. Memang kisah-kisah ini akan dibacakan ulang dalam liturgi Jumat Agung tetapi pemaknaannya berbeda. Pembacaan kisah sengsara Yesus dalam liturgi Minggu Palma dimaksudkan agar umat mengerti bahwa kemuliaan Yesus bukan hanya terletak pada kejayaan-Nya memasuki Yerusalem melainkan pada peristiwa kematian-Nya di kayu salib.

20 Februari 2010

Sabtu Suci (Holy Saturday)

Sabtu Suci atau Sabtu Sunyi atau Sabtu Sepi (bahasa Latin: Sabbatum Sanctum - "Hari Sabat Suci") adalah hari setelah Jumat Agung dan sebelum Minggu Paskah. Sabtu Suci merupakan hari terakhir dalam Pekan Suci yang dirayakan oleh orang Kristen sebagai persiapan perayaan Paskah. Hari Sabtu Suci memperingati pada saat tubuh Yesus Kristus dibaringkan di kubur setelah pada hari Jumat Agung mati disalibkan. Keesokan harinya (Paskah) Yesus bangkit dari kematiannya.

Peristiwa ini direkam di dalam Alkitab di Yohanes 19:38-42, juga di dalam ketiga Injil Sinoptik Matius 27:57-61; Markus 15:42-47; Lukas 23:50-56

Sesudah itu Yusuf dari Arimatea — ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi — meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya. Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat. Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ.

19 Februari 2010

Abu dan Pertobatan

Bertobatlah dan percaya pada Injil...

Puasa dimulai hari Rabu abu ini dengan penerimaan abu yang merupakan suatu tanda pertobatan yang bersifat komunal. Di seluruh dunia setiap orang katolik menerima abu di dahinya sebagai ungkapan kesediaan mereka untuk memulai saat pertobatan.
Abu yang telah kita terima di dahi itu tak dapat disembunyikan seperti halnya saat kita menerima suntikan, di mana setelah disuntik kita bisa menutupinya dengan menurunkan kembali lengan baju.
Abu diberikan di dahi dan karenanya semua orang bisa melihatnya dengan mudah. 

Di hari Rabu abu kita tidak datang menerima abu di tangan dan secara sembunyi-sembunyi kita kembali lalu mengoleskannya di dahi. Dahi yang bersih saat kita datang kini ditaburi abu untuk bias dilihat secara jelas oleh semua orang tanpa mampu bersembunyi.

Tentu ketika kita keluar dari pintu gereja setelah menerima abu di dahi, kita mungkin akan merasa malu bahwa justru bagian diri kita yang biasanya dengan mudah dilihat orang kini dikotori. Apa lagi kalau kita berada di lingkungan yang mayoritasnya tak beriman sama seperti kita, yang tak mengenal dan tak memahami apa makna di balik kotornya dahi tersebut. Tapi justru inilah nilai rohani dari penerimaan abu, yakni bahwa kita secara terbuka dan dengan amat rendah hati berdiri di hadapan sesama dan berkata bahwa kita bukanlah manusia yang bersih. Kita adalah kaum pendosa. Kita butuh sesuatu yang melampaui kekuatan manusiawi kita, yakni kekuatan rahmat Allah untuk membebaskan kita dari keadaan kita saat ini, yakni membebaskan kita dari dosa-dosa kita.


Satu hal menarik saat kita menerima abu. Karena abu diurapi di dahi kita, maka amatlah mustahil bahwa kita bisa melihat secara langsung betapa kotoranya dahi kita. Kita hanya bisa melihatnya lewat cermin setelah kita kembali ke rumah. Namun kita bisa dengan amat mudah melihat kotornya dahi orang lain. Di sini orang lain seakan berdiri di depan kita dan menjadi cermin tempat kita melihat diri kita masing-masing. Dalam hidup nyata kitapun dapat dengan mudah melihat kekurangan, kelemahan serta keburukan orang lain. Kita sulit melihat dengan jelas kelemahan diri sendiri. Orang lain selalu salah sementara aku selalu berada di pihak yang benar. Namun di hari Rabu abu sesamaku adalah gambaran diriku. Sesamaku adalah cermin diriku. Aku melihat diriku yang penuh kelemahan melalui orang lain yang kini berada di depanku. Tak ada yang bisa kita katakan di saat itu kecuali bersama-sama berdiri di hadapan Tuhan dan mengakui bahwa kita adalah manusia lemah, manusia yang sering jatuh. Kita adalah manusia yang bersama-sama membutuhkan rahmat istimewa dari Tuhan agar bisa bangun lagi dan menjadi layak lagi disebut anak-anak pilihanNya.

Selamat memasuki masa puasa dan lebih lagi mari kita mulai bertobat.


18 Februari 2010

Kamis Putih (Holy Thursday)

Dalam Kamis Putih kita diajak untuk merenungkan makna perjamuan malam terakhir yang diadakan oleh Yesus bersama para rasul. Setiap orang bisa menafsirkan atau memaknai peristiwa ini. Bagiku malam Kamis Putih yang menarik adalah upacara pembasuhan kaki. Hal ini pun sudah banyak orang yang berusaha memaknainya. Aku mau membuat penafsiran tersendiri mengenai perjamuan malam terakhir.
Menurut tradisi Yahudi mencuci kaki adalah sebuah bentuk penghormatan seseorang terhadap orang yang dianggap mempunyai status atau jabatan lebih tinggi atau lebih terhormat. Murid membasuh kaki gurunya sebab menganggap guru mempunyai status yang lebih terhormat daripadanya.
Pada malam Kamis Putih Yesus mencuci kaki para murid. Jelas ini melawan adat, maka ditolak oleh Petrus. Dia yang adalah murid merasa tidak pantas dihormati gurunya sedemikian rupa. Tapi Yesus tidak mundur dengan penolakan Petrus, bahkan Dia mengancam kalau Petrus tidak mau maka dia tidak akan masuk dalam bagian komunitasnya. Aku yakin bahwa yang gelisah dan menolak bukan hanya Petrus melainkan semua murid dan mungkin juga Yudas. Apakah Yesus hanya mau mencari sensasi saja?
 
Yesus melakukan sebuah perbuatan pasti ada tujuannya. Tindakan mencuci kaki merupakan salah satu bentuk pengajaran bagi para murid. Ini adalah keteladanan mengenai penghormatan. Pada umumnya orang hanya menghormati orang yang dianggap mempunyai status atau kasta yang sederajat atau yang lebih tinggi. Penghormatan hanya berjalan dari bawah ke atas. Yesus sejak awal berusaha membuat sebuah hukum baru, yang berbeda dengan aturan yang berlaku pada umumnya di dunia ini. Dalam Kotbah di Bukit dengan jelas Yesus hendak membangun suatu komunitas yang berbeda dengan masyarakat yang sudah ada. Hal ini bukan sifat Yesus yang aneh-aneh melainkan Dia berusaha membangun sebuah komunitas sempurna.

Dunia mengajarkan penghormatan adalah hak orang yang lebih tinggi martabatnya. Orang yang mempunyai jabatan, kekayaan atau kekuasaan. Orang miskin dan marginal hanya wajib menghormati namun dia tidak mendapat penghormatan. Rakyat wajib menghormati presiden sebaliknya presiden tidak mempunyai kewajiban menghormati rakyatnya. Anak wajib menghormati orang tuanya, sebaliknya orang tua tidak mempunyai kewajiban yang sama. Bahkan tidak jarang orang yang dianggap punya kekuasaan tinggi, jabatan tinggi dan sebagainya dapat sewenang-wenang menindas orang yang dianggap lebih rendah. Penghormatan berlaku dari bawahan pada atasan.


Yesus membalik aturan dunia ini. Dia mengajarkan penghormatan dari atasan pada bawahan. Dari guru pada murid. Dari penguasa pada orang yang tidak berkuasa, dari orang terhormat pada para kaum proletar. Ini adalah pukulan penyadaran bagi para murid. Beberapa kali mereka memperdebatkan siapa yang terbesar diantara mereka, sebab dengan merasa terbesar mereka berhak mendapatkan penghormatan dari yang lainnya. Ini adalah suatu bentuk ketidakadilan dimana orang hanya menuntut penghormatan sebaliknya dia tidak mau menghormati sesamanya.


Semua manusia adalah citra Allah. Bermartabat sama. Namun tata dunia membuat aneka pembedaan. Dunia mengelompokan manusia dalam bermacam tingkatan. Pembagian ini berdasarkan kelahiran, jabatan, kekayaan dan sebagainya. Ada orang yang terlahir sebagai bangsawan, maka dia secara otomatis menempati sebuah posisi tertentu. Dia menjadi lebih unggul dibandingkan dengan orang lain. Pada jaman dulu budaya Jawa sangat ketat mempertahankan kebangsawanan. Orang yang terlahir sebagai bangsawan tidak boleh bergaul dengan orang yang bukan bangsawan atau bangsawan yang lebih rendah. Apalagi mereka menikah dan sebagainya. Kisah kasih Pronocitro dan Roro Jogran mencerminkan adanya batasan itu. Dalam budaya Cina juga ada kisah Sam Pek dan Ing Tay yang mencerminkan hal yang sama. Namun sekarang gelar kebangsawanan tidak lagi mendampatkan penghormatan, maka orang berusaha mencari aneka gelar akademik, kekayaan dan jabatan untuk memperoleh penghormatan. Orang sangat bangga bila di depan atau belakang namanya ada aneka gelar akademik atau aneka jabatan. Semua gelar ditulis rapi agar orang yang tidak punya gelar menghormatinya. Tata nilai dunia ini tidak adil, sebab kapankah Mbok Jah yang hanya berjualan sayuran eceran atau Laksmi yang hanya seorang pekerja seks kelas teri di stasiun atau Asep yang hanya anak jalanan akan dihormati oleh orang lain yang bergelar profesor, berjabatan sekwilda dan sebagainya? Mereka hanya akan diperlakukan sewenang-wenang, tidak dianggap manusia, padahal martabat Asep sama dengan Pak Banu yang berpangkat jendral. Keduanya adalah citra Allah.


Suatu hari aku dan teman-teman dari rumah singgah diundang seseorang yang berulang tahun di sebuah rumah makan mewah. Ketika kami datang, maka orang itu langsung mempersilahkan aku duduk di tempat yang sudah disediakan, sedangkan teman-temanku yang lain tidak dipedulikan. Hal ini terjadi karena aku adalah seorang imam dan teman-temanku adalah anak jalanan. Padahal martabatku sama dengan mereka. Inilah nilai dunia yang hendak diubah oleh Yesus.


Penghormatan kepada kaum bawahan hanya bisa dilakukan bila orang yang dianggap atasan berani melepaskan atribut pemberian duniawi yang menempel di dirinya. Yesus melepaskan jubahnya yang melambangkan statusNya sebagai guru. Dia mengambil posisi hamba. Ini adalah salah satu bentuk pengosongan diri. Yesus sadar bahwa Dia adalah Guru namun berani melepaskan lambang-lambang keguruan. Keguruan Yesus bukan terletak pada lambang jubah melainkan kewibawaannya dalam mengajar, teguh dalam prinsip, kearifan, kebijaksanaan, belas kasih dan sebagainya. Dengan demikian keguruan Yesus bukan dari apa yang ditempelkan oleh masyarakat melainkan apa yang ada dalam diriNya.


Pernah ada sekelompok kaum kaya yang ingin ikut bersamaku mengunjungi kaum miskin di sebuah daerah kumuh. Jauh sebelumnya aku sudah mengatakan pada mereka bahwa agar mereka menyesuaikan diri dengan orang yang akan dikunjungi. Namun pada hari kunjungan aku menjadi terheran-heran. Mereka memakai aneka asesoris yang bagi mereka sederhana namun bagi kaum miskin sebuah kemewahan yang membuat mereka bermimpi. Mereka tidak mau duduk di tikar yang sudah disediakan, sebab takut kotor, penyakit dan aneka alasan lain. Bagiku ini bukan bentuk penghormatan pada kaum miskin, sebab dengan sikap dan penampilan begitu kaum miskin masih harus menunduk-nunduk di hadapan mereka dan mengangguk-anggukan kepalanya pada setiap kata yang meluncur dari bibir para tamu, meski aku kadang ragu apakah mereka memahami yang dimaksudkan oleh para tamu itu.


Penghormatan terjadi kalau orang berani menempatkan diri pada posisi yang lebih rendah. Yesus mencuci kaki para murid. Dia memposisikan diri sebagai budak. Namun Dia tidak menjadi budak para murid. Disini muncul ketegangan bagaimana aku dapat memposisikan diri sebagai budak namun tetap sadar bahwa aku bukan budak. Bagiku bergaul dengan anak jalanan, pengemis, gelandangan, pekerja seks, dan sebagainya bukan berarti aku harus menjadi bagian dari mereka. Aku tetaplah seorang imam. Aku harus tetap mempertahankan eksistensiku sebagai imam. Hal ini bukan dengan jubah putih, melainkan bagaimana aku bisa membawa mereka menjadi orang yang lebih baik. Tugas keimamanku yaitu membawa manusia untuk semakin dekat dengan Allah dan hidup lebih baik tidak aku letakan pada aneka gelar akademik atau jubah putih melainkan bagaimana perkataan, sikap hidup, dan pemikiranku mampu membawa kaum miskin mengenal Allah. Aku harus mampu duduk di tikar mereka, berpenampilan seperti mereka, berbicara dengan bahasa mereka dan sebagainya, namun aku masih harus tetap menghayati statusku sebagai imam dan sadar akan tugas perutusanku.


Disinilah sering kali timbul kesulitan besar. Maka dalam Kamis Putih aku diingatkan kembali akan semuanya itu oleh Yesus yang dengan tegas mengatakan bahwa Dia adalah Guru dan Tuhan mau melakukan pembasuhan kaki para murid.

Sumber: Pondok Renungan

17 Februari 2010

Rabu Abu (Ash Wednesday)

HARI RABU ABU: Yl 2:12-18; 2Kor 5:20-6.2; Mat 6:1-6.16-18.

"Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik".

"Semua orang beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat demi hukum ilahi; akan tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari-hari tobat, di mana orang-orang beriman kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa, menjalankan ibadat dan karya amalkasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban nya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang" (KHK kan 1249).

Setiap agama kiranya memiliki peraturan atau kebijakan khusus perihal pentingnya bertobat, berpuasa atau matiraga atau lakutapa. Maka baiklah sebagai orang beriman kristiani marilah kita hayati laksanakan aturan Gereja, sebagaimana saya kutipkan di atas, perihal apa yang harus dilakukan selama Masa Puasa, Masa Tobat, Masa Berahmat selama 40 (empat puluh) hari yang kita mulai pada hari Rabu Abu, hari ini.

• Berpuasa dan berpantang


"Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Mat 6:16-18). Orang yang bermuram mukanya berarti sedang dalam keadaan sedih, frustrasi, takut atau marah, padahal `berpuasa atau berpantang' merupakan upaya untuk semakin dekat atau mesra dengan Allah. Sabda Yesus perihal puasa dan pantang mengajak dan mengingatkan kita bahwa selama berpuasa dan berpantang atau matiraga/lakutapa hendaknya biasa-biasa saja, tidak pamer bahwa sedang bermatiraga atau lakutapa. .


Berpuasa dan berpantang secara negatif berarti mengurangi apa yang biasa dinikmati setiap hari, entah itu makanan, minuman, perilaku/tindakan atau omongan dst.. alias mengendalikan nafsu anggota tubuh atau raga sedemikian rupa dalam rangka memperbaiki atau memperbaharui cara hidup dan cara bertindak yang semakin sesuai dengan kehendak Tuhan. Maka baiklah dengan ini kami mengajak kita semua untuk mawas diri sesuai dengan situasi dan kondisi kita masing-masing: dalam hal apa saya sebaiknya berpuasa atau berpantang (makanan, minuman, omongan, cara bertindak, seks,dst.)?, hal atau sesuatu yang menyebabkan saya semakin jauh dari Tuhan, semakin hidup tak bermoral atau tak berbudi pekerti luhur? Berpuasa dan berpantang merupakan bentuk penyangkalan diri sendiri atau `menyalibkan diri' agar lebih setia pada panggilan, tugas utama, kewajiban atau janji-janji yang pernah diikrarkan.


• Menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban secara lebih setia.


"Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima" (2Kor 6:1), demikian nasihat atau peringatan Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua orang beriman. "Kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima", inilah yang baik kita renungkan atau refleksikan. Hidup kita serta segala sesuatu yang kita miliki atau kuasai sampai saat ini, seperti tubuh, kepandaian/ kecerdasan, bakat, harta benda/uang, pangkat/kedudukan/ fungsi, jabatan dst., adalah kasih karunia Allah yang telah kita terima melalui sesama manusia yang telah berbuat baik kepada kita dalam berbagai kesempatan. Semuanya adalah kasih karunia Allah, everything is given, maka selayaknya kita nikmati dan fungsikan sesuai dengan kehendak Allah, yang bagi kita masing-masing berarti lebih setia pada panggilan, tugas pengutusan maupun kewajiban kita masing-masing, mengingat dan memperhatikan dalam perjalanan waktu sampai kita mengalami kemunduran atau erosi dalam hal kesetiaan.


"Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Maka baiklah sebagai orang yang telah dibaptis marilah mawas diri perihal rahmat pembaptisan yang telah kita terima, sedangkan terpanggil untuk hidup berkeluarga hendaknya juga mawas diri perihal rahmat sakramen perkawinan, hidup imamat perihal janji imamat, hidup membiara perihal kaul-kaul dst… Marilah kita mawas diri atas janji-janji tersebut dengan sungguh-sungguh agar di Malam Paskah nanti kita layak memperbaharui janji-janji tersebut, dan secara khusus para imam akan memperbaharui janji di hari Kamis Putih. Mungkin baik secara bersama-sama kita mawas diri perihal rahmat pembaptisan yang mendasari hidup dan panggilan kita sebagai `anggota Tubuh Kristus' atau Gereja.


Tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) tahun 2010 adalah `Melawan Kemiskinan", baiklah hal ini tidak hanya difahami atau dimengerti secara phisik atau material saja, tetapi lebih-lebih dan terutama secara spiritual, yang berarti `melawan kemiskinan kesetiaan atas penghayatan rahmat pembaptisan' alias kurang mengabdi Tuhan dan melawan godaan setan. Hemat saya yang menjadi penyebab utama kemiskinan secara material adalah ketidak setiaan orang dalam mengabdi Tuhan dan menolak godaan setan, yang menggejala dalam perilaku tak bermoral seperti "percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya"( Gal 5:19-21). Maka melawan kemiskinan berarti memberantas perilaku atau perbuatan yang tak bermoral di atas ini. Perbuatan amoral di atas ini juga membuat orang tidak setia pada panggilan, tugas pengutusan maupun kewajiban. "Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya" (Yl 2:13), demikian nasihat atau pesan nabi Yoel.


• Menjalankan ibadat dan karya amalkasih.


Matiraga atau lakutapa kita di masa Prapaskah ini hendaknya juga ditandai lebih giat dalam "menjalankan ibadat dan karya amalkasih", berdoa dan berbuat baik kepada orang lain dimanapun dan kapanpun, lebih-lebih bagi mereka yang miskin dan berkekurangan. Jumlah mereka yang miskin dan berkekurangan dalam hal harta benda atau uang atau kebutuhan hidup sehari-hari kiranya lebih sedikit daripada yang berkecukupan atau berlebihan, maka jika yang berkecukupan dan berlebihan dengan jiwa besar dan hati rela berkorban mau membantu mereka yang miskin dan berkurangan, dambaan atau harapan `melawan kemiskinan' dapat menjadi kenyataan atau terwujud. Dengan rendah hati kami berharap kepada mereka yang berkecukupan dan berlebihan untuk solider terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan. Marilah di masa Prapaskah ini kita tingkatkan penghayatan atas dua prinsip hidup beriman atau menggereja yaitu `solidaritas' dan `keberpihakan kepada yang miskin dan berkekurangan' (preferential option for/with the poor).


"Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat"

(Mzm 51:3-6a)

Jakarta, 17 Februari 2010


Sumber: Milis Paroki Keluarga Kudus Cibinong