21 April 2017

R. A. Kartini Pejuang Emansipasi Wanita


R.A. Kartini atau Raden Ayu Kartini adalah salah satu sosok wanita yang menjadi pelopor untuk kebangkitan wanita pribumi, salah satu dari pahlawan Indonesia yang wajib untuk dijadikan inspirasi hidup bagi warga Indonesia khususnya bagi para kaum wanita. Perjuangan beliau untuk memperjuangkan emansipasi wanita di Indonesia patut diancungi jempol. 

Raden Ayu Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Kota Jepara. R.A adalah sebuah gelar yang diberikan kepada keluarga bangsawan karena beliau merupakan anak dari kalangan keluarga bangsawan, maka ia berhak mendapatkan gelar R.A atau bisa disebut dengan Raden Ajeng. 

Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, yang semasa hidupnya pernah menjabat sebagai Bupati Jepara yang diangkat saat berusia 25 tahun dan dikenal sebagai salah satu bupati pertama yang memberikan pendidikan barat kepada anak-anaknya. 

R.M. Adipati Ario Sosroningrat juga pernah menjabat sebagai bupati Jepara setelah Kartini dilahirkan. Dari ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Tidak hanya itu, ayahnya dikatakan masih memiliki garis keturunan dari Kerajaan Majapahit hal ini diperkuat dengan pernyataan 'Pada abad ke-18 Pangeran Dangirin menjadi bupati di Surabaya sehingga nenek moyang R.M. Adipati Ario Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja (informasi ini perlu diteliti lebih lanjut). 

Berbeda dengan ayahnya, ibu dari Kartini bukan keturunan dari bangsawan melainkan hanya rakyat biasa. Nama beliau adalah M.A. Ngasirah merupakan anak dari Kyai Haji Madirono dengan Nyai Haji Siti Aminah, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. 

Raden Ayu Kartini merupakan anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari semua saudara kandungnya, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakaknya yang bernama Sosrokartono, seorang yang pintar dalam bidang sastra atau bahasa. 

Pada pernikahan pertama, R.M. Adipati Ario Sosroningrat menjabat sebagai Wedana di Mayong. Peraturan kolonial pada saat itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan, maka M.A. Ngasirah yang bukan dari keturunan bangsawan harus rela karena R.M. Adipati Ario Sosroningrat yang merupakan seorang bangsawan menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung dari seorang Raja Madura yang bernama R.A.A. Tjitrowikromo. Setelah pernikahan tersebut ayah Kartini diangkat menjadi Bupati di Jepara. M.A. Ngasirah menjadi istri pertama dan R.A. Woerjan menjadi istri utama. 

R.A Kartini bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sekolah ini ia belajar Bahasa Belanda, namun hanya sampai usia 12 tahun karena budaya pada masa itu, anak perempuan harus tinggal dirumah untuk 'dipingit' dapat diartikan sebagai dikurung/berkurung di dalam rumah. 

Belajar dapat dimana saja dan kapanpun selagi kita memiliki kemauan dan kesempatan, itulah yang dilakukan Kartini. Ia bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda salah satunya bernama Rosa Abendanon. 


Munculnya Pemikiran Mengenai Emansipasi Wanita 

Kebiasaan Kartini yang menulis surat kepada teman-teman korespondensi dan juga ditambah dengan sering membaca buku, koran, maupun majalah Eropa, Kartini menjadi tertarik pada kemajuan pola berpikir perempuan Eropa. Akhirnya timbul keinginan untuk memajukan wanita pribumi karena pada masa itu dengan budaya yang bersifat menekan perempuan, ia melihat bahwa wanita pribumi berada pada status sosial yang rendah. 

Kartini juga banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief, ia juga menerima Leestrommel (paket majalah langganan). Ia beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak bahwa Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian. 

Perhatiannya tidak hanya fokus pada emansipasi wanita, namun juga dalam masalah sosial umum. Ia menginginkan agar wanita memperoleh persamaan hukum dan kebebasan sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Ia suka membaca buku, beberapa buku yang ia baca, yaitu Max Havelaar, Surat-Surat Cinta karya Multatuli, dan De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. 

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi wanita pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan bagi kaum wanita. 

Raden Ayu Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling, Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen, Zelf-werkzaamheid, dan Solidariteit. Semua itu atas dasar Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan, ditambah dengan peri kemanusiaandan Nasionalisme (cinta tanah air). 

R.A Kartini memiliki keinginan untuk dapat melihat wanita pribumi mendapatkan persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat seperti persamaan hak wanita dengan laki-laki, kebebasan dalam menuntut ilmu, maupun dalam mengekang kebebasan wanita. 

Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi wanita Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. 

Raden Ayu Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-citanya. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi. 

Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginannya tersebut. Akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini. 

Pada tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi mungkin hanya akan menjadi mimpi yang tidak dapat diwudujkan. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi. 

R.A Kartini menikah dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat pada tanggal 12 November 1903, yang merupakan seorang bangsawan dan juga menjabat sebagai Bupati di Rembang yang telah mempunyai tiga orang istri. Suaminya mengerti apa yang diinginkan oleh Kartini, akhirnya Kartini diberi kebebasan dan didukung untuk mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang dan sekarang bangunan tersebut digunakan sebagai Gedung Pramuka. 


Meninggal Dunia 

Pernikahannya dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo memiliki satu orang anak yang bernama Soesalit Djojoahiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Berselang beberapa hari setelah melahirkan tepatnya pada tanggal 17 September 1904, Kartini meninggal dunia dan dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. 

Berkat kegigihan yang dilakukan oleh Kartini, kemudian banyak sekolah wanita yang berdiri seperti di kota di Indonesia seperti Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, daerah lainnya, maupun sekolah wanita yang didirikan oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912. Nama sekolah tersebut adalah Sekolah Kartini yang didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis. 

Penjelasan Politik Etis adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. 


Pengumpulan Surat yang Pernah Ditulis oleh Kartini 


Setelah kematian Kartini, seseorang yang bernama J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan oleh Kartini kepada teman-teman korespondensi yang berada di Eropa. J.H. Abendanon yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang memiliki arti "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini. 

Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran. Pada tahun 1938 keluar buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Jawa dan Sunda. 

Surat-surat Kartini juga diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno. Pada mulanya Sulastin menerjemahkan Door Duisternis Tot Licht di Universitas Leiden, Belanda, saat ia melanjutkan studi di bidang sastra tahun 1972. Pada 1979, sebuah buku berisi terjemahan Sulastin Sutrisno versi lengkap Door Duisternis Tot Licht pun terbit. Buku kumpulan surat versi Sulastin Sutrisno terbit dengan judul Surat-Surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya. 


Buku yang terbit melalui pengumpulan surat kartini : 

Habis Gelap Terbitlah Terang 

Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya 

Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 

Panggil Aku Kartini Saja 

Kartini Surat-Surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya 

Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 

Surat-surat yang ditulis oleh Kartini menarik perhatian masyarakat Belanda dan pemikiran yang dituangkan dalam surat tersebut mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap wanita pribumi. Tidak hanya itu surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional, antara lain W.R. Soepratman yang berhasil menciptakan sebuah lagi yang berjudul Ibu Kita Kartini. Lagu ibu kita Kartini menggambarkan inti perjuangan wanita untuk merdeka. Kini kemerdekaan kaum wanita diwujudkan dalam konsep emansipasi wanita. 


Lirik Lagu Ibu Kita Kartini Karya W.R. Soepratman 

Ibu kita Kartini, putri sejati 

Putri Indonesia, harum namanya 

Ibu kita Kartini, pendekar bangsa 

Pendekar kaumnya untuk merdeka 

Wahai ibu kita Kartini 

Putri yang mulia 

Sungguh besar cita-citanya 

Bagi Indonesia 


Ibu kita Kartini, putri jauhari 

Putri yang berjasa, se-Indonesia 

Ibu kita Kartini, putri yang suci 

Putri yang merdeka cita-citanya 

Wahai ibu kita kartini 

putri yang mulia 

sungguh besar cita-citanya bagi indonesia 


Ibu kita Kartini, pendekar putri 

Pendekar kaum ibu Tanah Airku 

Ibu kita Kartini, penyuluh budi 

Penyuluh kaumnya kar'na cintanya 

Wahai ibu kita Kartini 

Putri yang mulia 

Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia 


Perdebatan Mengenai Kebenaran Surat dari Kartini 

Ada kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat Kartini. Ada dugaan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya. Menurut almarhumah Sulastin Sutrisno, jejak keturunan J.H. Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda. 

Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini seperti Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, Dewi Sartika dan lain-lain. 


Penghargaan 

Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. 

Lagu Ibu Kita Kartini karya W.R. Soepratman juga ditetapkan sebagai lagu Nasional. Namanya juga diabadikan sebagai nama jalan kota yang ada di Belanda. 

Utrecht : dengan nama Jalan R.A. Kartini atau Kartinistraat 

Venlo : dengan nama Jalan R.A. Kartinistraat 

Amsterdam : dengan nama Jalan Raden Adjeng Kartini 

Haarlem : dengan nama Jalan Kartini

10 April 2017

RIP sahabatku Yustinus Jarot Sumarwoto

Pagi itu Senin 10 April 2017 seperti biasa kami berangkat menuju kantor, tepat Pukul 07.10 saat kami berada di jalan TOL Jagorawi menuju jalan TOL Dalam Kota, kami mendapat telepon dari Bapak Yohanes Kambey yang memberitahukan bahwa sahabat kami Bapak Yustinus Jarot Sumarwoto telah meninggal dunia tadi Pukul 06.20 Wib karena serangan jantung dan saat ini jenazah berada di RS Sentra Medika Cisalak.

Terus terang kami sangat shock mendengar berita tersebut, karena baru semalam yaitu hari Minggu, 09 April 2017 (Alm) Bapak Yustinus Jarot Sumarwoto baru berulang tahun yang ke 56 tahun dan dirayakan bersama keluarganya. Dan baru semalam juga kami ber-WA ria mengucapkan selamat ulang tahun kepada beliau. 

Mendapat berita seperti itu, kami langsung berbalik arah menuju ke RS Sentra Medika Cisalak, dan sesampainya di sana kami mendapati teman-teman Lingkungan Santo Sebastianus sudah banyak yang datang. 

Atas kesepakatan keluarga, besok Selasa dini hari jenazah (Alm) Bapak Yustinus Jarot Sumarwoto akan di bawa ke Yogyakarta dan dikebumikan di sana. 

SELAMAT JALAN SAHABATKU (ALM) YUSTINUS JAROT SUMARWOTO... SEMOGA DAMAI MENYERTAIMU DI RUMAH BAPA. 









28 Maret 2017

Nyepi


Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka.

Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali.

Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) diarak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.

Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada "tilem sasih kesanga" (bulan mati yang ke-9), umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.

Keesokan harinya, yaitu pada pinanggal pisan, sasih Kedasa (tanggal 1, bulan ke-10), tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan "Catur Brata" Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi.

Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan)), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).

Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan pada tahun yang baru.

Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada "pinanggal ping kalih" (tanggal 2) sasih kedasa (bulan X). Pada hari ini Tahun Baru Saka tersebut memasuki hari ke dua. Umat Hindu melakukan Dharma Shanti dengan keluarga besar dan tetangga, mengucap syukur dan saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain, untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih. Inti Dharma Santi adalah filsafat Tattwamasi yang memandang bahwa semua manusia di seluruh penjuru bumi sebagai ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa hendaknya saling menyayangi satu dengan yang lain, memaafkan segala kesalahan dan kekeliruan. Hidup di dalam kerukunan dan damai.


Sumber: Wikipedia

9 Desember 2016

Ziarah Rohani ke Oasis Sungai Kerit

JUMAT 09 Desember 2016 Pukul 21.00 Wib kami melakukan perjalanan ke Purwokerto bersama dengan warga Lingkungan Santo Sebastianus dalam rangka Ziarah Rohani ke Pertapaan Awam Oasis Sungai Kerit di Melung, Purwokerto yang dilaksanakan dari tanggal 09 s.d. 11 Desember 2016. Selama di Pertapaan Awam Oasis Sungai Kerit kami mengikuti Misa yang dipimpin oleh Romo Maxi, serta melakukan meditasi penyerahan diri kepada Allah pencipta alam semesta. Meditasi ini sangat bermanfaat bagi kami dan warga Lingkungan Santo Sebastianus lainnya untuk tetap setia dalam iman kepada Yesus Kristus dan menemukan hikmat dari Allah, sehingga semakin bijak dalam hidup kami. Amin.





27 November 2016

Jimi Hendrix, Kisah Tragis Legenda Gitaris Amerika


Jimi Hendrix adalah gitaris, penyanyi, dan penulis lagu rock Amerika.

Dia memenangkan berbagai penghargaan atas kontribusinya pada musik rock, baik selama hidupnya dan setelah kematiannya pada usia 27 tahun.

Dengan gaya unik yang mengkombinasikan rock and roll, blues dan funk, Jimi Hendrix menjadi salah satu musisi paling berpengaruh dalam sejarah rock and roll dengan keterampilan bermain gitarnya yang legendaris.


Kelahiran dan Masa Kecil

Jimi Hendrix lahir sebagai Johnny Allen Hendrix pada tanggal 27 November 1942 di Seattle, Washington.

Ayahnya sedang bertugas di sebuah kamp Angkatan Darat Amerika Serikat di Oklahoma ketika dia dilahirkan.

Ketika pulang, ayahnya mengubah nama anaknya menjadi James Marshall Hendrix.

Kehidupan keluarga Jimi tidak stabil. Keluarganya miskin sehingga dia sering dikirim untuk tinggal dengan anggota keluarga lain atau teman-teman.

Salah satu dari kedua saudara laki-lakinya cacat dan dibesarkan oleh negara, dengan kedua saudara perempuannya juga cacat dan diserahkan untuk diadopsi.

Orang tua Hendrix bercerai pada tahun 1952 dan ibunya meninggal enam tahun kemudian.

Sekitar waktu itu, Jimi membeli gitar pertamanya dan mulai berlatih dengan tekun. Ayahnya memberinya gitar listrik pertama pada tahun berikutnya.


Awal Karir

Band pertama Jimi Hendrix adalah The Velvetones diikuti dengan The Rocking Kings.

Setelah putus SMA, dia terlibat masalah hukum karena mengendarai mobil curian. Sebagai alternatif ke penjara, dia diizinkan bergabung dengan Angkatan Darat AS.

Dia terdaftar pada tanggal 31 Mei 1961 dan keluar satu tahun kemudian. Di masa itu Hendrix bertemu gitaris bass, Billy Cox, dan terus menjalin hubungan pribadi dan profesional selama sisa hidupnya.

Setelah meninggalkan Angkatan Darat, Hendrix dan Cox pindah ke Clarksville, Tennessee, dan membentuk band bernama The King Casuals dan bermain di seluruh wilayah Selatan Amerika selama sekitar dua tahun.

Pengalaman Hendrix di Selatan memungkinkan dia mengembangkan gaya pribadinya, meskipun sulit untuk mencari nafkah.

Dia pindah ke New York pada tahun 1964. Sementara di sana, dia memenangkan hadiah pertama dalam kontes amatir di The Apollo Theater dan bergabung dengan tur nasional Isley Brothers’.

Hendrix bermain sebagai cadangan untuk Little Richard pada tahun 1965, tetapi karena tidak cocok mereka segera bubar.

Sepanjang tahun 1965 dan 1966, Hendrix bermain di beberapa band sebelum membentuk band sendiri, Jimmy James dan The Blue Flames.

Pada tahun yang sama, dia juga mendirikan band paling pentingnya, The Jimi Hendrix Experience, dengan bantuan produser Inggris, Chas Chandler.

Para anggota band awal adalah Hendrix dan musisi Inggris Noel Redding dan Mitch Mitchell.


The Jimi Hendrix Experience

Hendrix tampil dan merekam musiknya yang paling berpengaruh bersama dengan The Jimi Hendrix Experience.

Band ini merilis empat album studio, Are You Experienced and Axis: Bold as Love pada tahun 1967, Electric Ladyland pada tahun 1968, dan The Cry of Love pada tahun 1971 setelah kematian Hendrix.

Keempat album ini berhasil masuk lima besar di tangga lagu Inggris dan Amerika Serikat, dengan Electric Ladyland menjadi no.1 di AS.

Setelah mencapai ketenaran di Inggris, The Jimi Hendrix Experience memenangkan lebih banyak penggemar di Amerika melalui pertunjukan di Monterey International Pop Festival di Monterey, California, pada tahun 1967.

Hendrix pada saat itu menghancurkan dan membakar gitarnya di akhir sesi, peristiwa yang diabadikan dalam film dokumenter Monterey Pop.

Band ini selanjutnya melakukan tur Eropa, tapi Redding meninggalkan kelompok ini pada bulan Juni 1969 dan digantikan oleh Cox.


Proyek Lainnya

Meskipun Cox telah bermain dengan Hendrix sejak April 1969, The Jimi Hendrix Experience sempat vakum sampai tahun 1970.

Di waktu vakum tersebut, Hendrix memiliki dua proyek singkat, satu disebut Gypsy Sun and Rainbows dan yang lainnya disebut Band of Gypsys.

Dengan yang pertama, dia melakukan salah satu pertunjukan paling ikonik di Woodstock pada tanggal 18 Agustus 1969.

Pertunjukan solonya, versi improvisasi dari The Star-Spangled Banner (lagu kebangsaan AS) adalah salah satu momen besar dalam karirnya.

The Jimi Hendrix Experience bersatu kembali untuk tur Cry of Love pada tahun 1970, dengan Cox tetap mengganti Redding.

Band ini sukses melakukan 30 tur di AS. Setelah itu mereka melakukan tur singkat di Eropa.

Hendrix memainkan konser terakhirnya di Jerman pada tanggal 6 September 1970.


Kematian di Usia 27 tahun

Hendrix meninggal karena keracunan barbiturat dan menelan muntahannya sendiri pada tanggal 18 September 1970, dilaporkan setelah overdosis pil tidur.

Meskipun berakhir tragis pada usia 27 tahun, musik Hendrix terus mempengaruhi dan menginspirasi banyak musisi dan fans.

Pada tahun 1992, dia dianugerahi Grammy Lifetime Achievement Award dari The National Academy of Recording Arts & Sciences.

Sebuah album lagu yang belum pernah dirilis sebelumnya berjudul First Rays of the New Rising Sun, akhirnya dirilis pada tahun 1997.